RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan tren peningkatan.
Berdasarkan data Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Dindagkop UM) Bojonegoro, saat ini terdapat sekitar 100 ribu pelaku UMKM yang tersebar di berbagai sektor usaha.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dindagkop UM Bojonegoro, Akhmadi, mengatakan jumlah tersebut bersifat dinamis. Sebab, setiap tahun selalu ada pelaku usaha yang berhenti beroperasi, namun di saat yang sama juga bermunculan pelaku usaha baru.
"Data kami sekitar seratus ribu pelaku UMKM. Ada yang berhenti, tetapi banyak juga yang baru memulai usaha," ujarnya.
Menurut Akhmadi, terdapat berbagai faktor yang mendorong masyarakat memilih berwirausaha. Salah satunya karena keterbatasan lapangan pekerjaan, sehingga UMKM menjadi alternatif untuk memperoleh penghasilan.
Baca Juga: 108 UMKM Ramaikan Wastra Batik Festival di Bojonegoro, ASN Diwajibkan Berkunjung
Beragam jenis usaha berkembang di Bojonegoro, mulai dari produksi makanan dan minuman kemasan, kuliner, hingga fesyen.
Meski demikian, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan. Persaingan usaha yang semakin ketat membuat omzet sebagian pelaku usaha menurun. Karena itu, mereka membutuhkan peningkatan kapasitas, terutama dalam bidang promosi dan pemasaran.
"Kami menyediakan berbagai pelatihan dan pendampingan agar pelaku UMKM mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pasar," katanya.
Selain persaingan, keterbatasan modal juga menjadi persoalan yang kerap menghambat perkembangan usaha. Tidak sedikit UMKM yang kesulitan mengembangkan usahanya karena keterbatasan akses pembiayaan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dindagkop UM bekerja sama dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) guna mempermudah akses permodalan melalui skema pinjaman berbunga ringan.
"Kami bekerja sama dengan BPR agar pelaku UMKM mendapatkan akses pembiayaan dengan bunga pinjaman yang ringan," jelasnya.
Akhmadi mengakui, jumlah UMKM yang berhasil naik kelas hingga menjadi usaha skala besar masih relatif sedikit.
Menurutnya, dibutuhkan konsistensi, inovasi, dan proses yang panjang agar sebuah usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Sejauh ini memang belum banyak yang naik kelas. Membangun usaha hingga berkembang menjadi besar membutuhkan waktu dan konsistensi," pungkasnya. (zim)
Editor : Bhagas Dani Purwoko