Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Daerah “Kurang Subur” Justru Jadi Raja Beras Jatim, Lamongan Mulai Terancam Bojonegoro

Bachtiar Febrianto • Rabu, 20 Mei 2026 | 11:36 WIB
BERAS: Warga Desa Campurejo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro panen padi, Selasa (10/2).
BERAS: Warga Desa Campurejo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro panen padi, Selasa (10/2).

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dominasi kawasan pantura barat Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional semakin sulit dibantah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur tahun 2025 menunjukkan ironi menarik: daerah-daerah yang selama ini tidak identik sebagai kawasan paling subur justru menjadi produsen beras terbesar di provinsi ini.

Lima besar produksi beras Jawa Timur 2025 ditempati Kabupaten Lamongan sebesar 508.126 ton, Kabupaten Bojonegoro 507.947 ton, Kabupaten Ngawi 446.097 ton, Kabupaten Jember 392.364 ton, dan Kabupaten Tuban 333.727 ton.

Yang menarik, empat dari lima daerah tersebut berada di kawasan barat utara Jatim yang dikenal memiliki tantangan geografis dan iklim lebih keras dibanding daerah-daerah “hijau” di wilayah selatan maupun tengah Jawa Timur. Hanya Kabupaten Jember yang mewakili kawasan subur tradisional.

Fenomena ini sekaligus mematahkan asumsi lama bahwa produksi beras terbesar hanya bisa lahir dari daerah dengan curah hujan tinggi dan tanah super subur. Kini, modernisasi pertanian, pengelolaan irigasi, mekanisasi, serta pola tanam terbukti jauh lebih menentukan dibanding sekadar faktor alam.

Jawa Timur sendiri pada 2025 mencatat produksi beras mencapai sekitar 6,03 juta ton, naik 12,60 persen dibanding tahun sebelumnya. Luas panen juga meningkat menjadi 1,84 juta hektare.

Namun sorotan terbesar justru tertuju pada persaingan sengit antara Lamongan dan Bojonegoro.
Selama beberapa tahun terakhir, Lamongan masih mempertahankan status sebagai produsen beras terbesar di Jawa Timur. Tetapi kini jarak keunggulannya sangat tipis. Selisih produksi Lamongan dengan Bojonegoro hanya sekitar 179 ton. Dalam skala produksi ratusan ribu ton, angka itu praktis nyaris imbang.

Bojonegoro bahkan menjadi daerah dengan peningkatan produksi paling progresif di Jawa Timur. Produksi gabah kering giling (GKG) Bojonegoro tahun 2025 melonjak hingga 24,7 persen dibanding tahun sebelumnya, dari sekitar 710 ribu ton menjadi 886 ribu ton GKG.

Lonjakan tersebut membuat Bojonegoro sukses menyalip Ngawi yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis pertanian paling stabil di Jawa Timur.
Keberhasilan Bojonegoro tidak lahir secara kebetulan. Pemerintah daerah secara agresif melakukan optimalisasi lahan, pembangunan irigasi, distribusi pupuk, penggunaan varietas unggul, hingga percepatan mekanisasi pertanian. Daerah yang dulu lebih dikenal sebagai kawasan migas kini mulai menjelma menjadi kekuatan baru pangan nasional.

Sebaliknya, posisi Lamongan mulai menghadapi tantangan serius. Selama ini Lamongan unggul karena kombinasi luas lahan pertanian, kultur agraris yang kuat, serta jaringan irigasi yang relatif mapan. Namun kompetisi kini tidak lagi hanya bergantung pada luas sawah.

Ancaman terbesar Lamongan justru datang dari stagnasi inovasi. Jika peningkatan produksi berjalan biasa-biasa saja sementara Bojonegoro terus agresif melakukan ekspansi produktivitas, supremasi Lamongan sangat mungkin runtuh dalam satu atau dua tahun ke depan.

Apalagi tekanan terhadap sektor pertanian juga semakin berat. Alih fungsi lahan, perubahan iklim, mahalnya pupuk, berkurangnya tenaga kerja muda di sektor pertanian, hingga ancaman krisis air menjadi tantangan nyata.
Ironinya, di tengah kenaikan produksi nasional dan surplus stok beras, harga beras di pasar masih relatif tinggi. Bahkan Bapanas dan Kementerian Pertanian beberapa kali menyinggung adanya anomali distribusi dan dugaan permainan rantai pasok pangan.

Artinya, keberhasilan produksi belum otomatis menjamin kesejahteraan petani maupun stabilitas harga konsumen.
Karena itu, persaingan Lamongan dan Bojonegoro seharusnya tidak sekadar dipahami sebagai perebutan gelar produsen beras terbesar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana daerah-daerah tersebut mampu menjaga keberlanjutan pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

Bagi Lamongan, status juara kini bukan lagi zona nyaman. Selisih hanya 179 ton dengan Bojonegoro adalah alarm keras bahwa dominasi bisa runtuh kapan saja.
Sementara bagi Bojonegoro, momentum ini menjadi pembuktian bahwa daerah yang selama ini dianggap “kering” ternyata mampu menjelma menjadi raksasa pangan baru Jawa Timur.
Dan jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin tahun depan mahkota produsen beras terbesar Jawa Timur benar-benar berpindah tangan. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pangan #beras #Pertanian #bojonegoro #lamongan