RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Harga sejumlah bahan pokok di Bojonegoro mulai merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah menguatnya kurs dolar Amerika Serikat yang mencapai Rp17.600 per Kamis siang (15/5).
Berdasarkan data laman resmi Dinas Perdagangan Bojonegoro, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga. Beras medium misalnya, naik dari Rp13 ribu menjadi Rp13,1 ribu per kilogram (kg). Sementara beras premium naik dari Rp14,8 ribu menjadi Rp15,3 ribu per kg.
Kenaikan juga terjadi pada tepung terigu yang semula Rp10,5 ribu menjadi Rp11,3 ribu per kg. Cabai rawit merah naik dari Rp67,1 ribu menjadi Rp68,7 ribu per kg, sedangkan cabai merah keriting bergerak dari Rp42 ribu menjadi Rp42,5 ribu per kg. Selain itu, harga kacang hijau tur ut melonjak dari Rp26,8 ribu menjadi Rp29,5 ribu per kg.
Meski demikian, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga. Telur ayam ras misalnya, turun dari Rp27,1 ribu menjadi Rp25,3 ribu per kg. Kedelai lokal juga turun dari Rp15,1 ribu menjadi Rp13,1 ribu per kg, sementara kedelai impor turun dari Rp14,4 ribu menjadi Rp12 ribu per kg.
Baca Juga: Harga Gabah dan Jagung Melesat dalam Setahun: Gabah Dipatok Rp 7.400, Jagung Rp 5.300
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Dindagkopum) Bojonegoro Akhmadi mengatakan, harga sejumlah komoditas saat ini masih berpotensi mengalami penyesuaian. “Seperti tepung terigu kemungkinan di angka Rp12 ribu per kilogram. Kedelai impor sekitar Rp11 ribu per kilogram dan kedelai lokal Rp14 ribu per kilogram. Saat ini masih di kisaran itu,” ujarnya.
\Sementara itu, Andrian, salah seorang pedagang di Pasar Wisata (Parwis), mengaku harga tepung terigu di tingkat pengecer masih relatif stabil. Ia menjual tepung di kisaran Rp8 ribu per kilogram.
“Kalau naiknya lebih terasa per karung. Sekarang naik sekitar Rp2 ribu per karung. Tapi saya masih jual dengan harga tetap,” katanya.
Hal serupa dirasakan Ayuk, pedagang tempe asal Kecamatan Kota. Dia menyebut harga kedelai mulai naik sejak sekitar satu bulan terakhir. Dari sebelumnya Rp10 ribu menjadi Rp11,6 ribu per kilogram.
Meski biaya produksi meningkat, Ayuk mengaku belum berani menaikkan harga jual tempe. “Untungnya jadi berkurang,” ujarnya. (yna/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana