RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Usaha makanan dan minuman saat ini masih cukup prospektif. Namun, di tengah harga bahan baku yang mengalami kenaikan seperti ini, banyak yang tertekan. Meski demikian, prospek usaha ini masin cukup bagus.
Tonny Ade Irawan, salah satu pengusaha kuliner mengatakan, harga bahan baku saat ini mahal. Harga ayam, tepung, sayuran, hingga gas elpiji naik. Kenaikan terjadi akibat ketersediaan bahan baku yang susah didapat.
‘’Sehingga harga naik. Ayam yang semula Rp 35 ribu per kilo kini naik menjadi Rp 40 ribu per kilo,” ujarnya.
Sementara untuk penjualan turun drastis. Ditambah persaingan di dunia kuliner semakin ketat. Sehingga pendapatan menurun.
Tonny mengaku untuk mengatasi kenaikan harga bahan baku tersebut terpaksa mengurangi biaya tenaga kerja (labor cost). Tentu dengan mengurangi tenaga kerja.
‘’Menggurangi labor cost atau jumlah pegawai. Terlebih penjualan turun sehingga menyesuaikan dengan pendapatan,” jelasnya.
Ketua Forum IKM Jatim Bojonegoro Silvia Meris Retnowati mengatakan, usaha makanan dan minuman masih memiliki prospek yang bagus. Terutama di daerah-daerah yang padat penduduk. ‘’Misalnya di Bojonegoro Kota, Kapas, dan Kalitidu prospek bisnis ini masih bagus,’’ jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, di tengah ekonomi yang tidak menentu, pelaku usaha harus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Sehingga, dengan begitu ada banyak peluang bisa dimanfaatkan. ‘’Misalnya mengadakan event untuk mendongkrak penjualan,’’ tuturnya. (Irv/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana