Saya diundang makan malam oleh seorang pengusaha SPBU di Bojonegoro, Senin (4/5). Dalam pertemuan itu, kami berbincang mengenai bisnis bahan bakar minyak (BBM).
Pengusaha ini terbilang sukses berbisnis BBM. Terbukti dengan banyaknya pom bensin miliknya yang tersebar di Bojonegoro, Blora, dan Rembang.
Meski demikian, ia sudah membaca potensi perubahan bisnisnya di masa depan. Terutama saat kelak mobil listrik mulai menjamur di Indonesia. Mengalahkan mobil bensin. Saat itu, usaha pom bensin akan sulit. Konsumennya akan berkurang drastis, bahkan hilang sama sekali.
Namun, ia memprediksi hal itu belum akan terjadi dalam waktu dekat, masih sangat lama. Saat ini masyarakat Indonesia masih menyukai mobil bensin karena lebih awet dan lebih kuat di segala medan.
"Mobil listrik belum akan menggantikan mobil bensin dalam 10 tahun ke depan," ujarnya optimistis.
Namun, dia mengakui bahwa di masa depan mobil listrik akan mendominasi pasar dan menggantikan mobil bensin. Namun, di sela itu, ada satu jenis mobil yang akan mendominasi terlebih dahulu.
"Sebelum mobil listrik, yang akan mendominasi lebih dulu adalah mobil hybrid," tuturnya.
Mobil hybrid adalah gabungan antara mobil bensin dan mobil listrik. Kombinasi keduanya membuat konsumsi bahan bakar menjadi jauh lebih hemat. Namun, mobil hybrid juga masih banyak kelemahannya.
"Harga jual second-nya jatuh. Harga baterainya juga mahal. Paling murah Rp50 juta," tuturnya.
Usia baterai mobil hybrid sekitar 7 tahun. Anda yang memiliki mobil hybrid, siapkan dana Rp50 juta jika mobil Anda sudah berusia 7 tahun. Sebab, baterai hybrid tidak bisa diperbaiki. Jika ada bagian yang rusak, harus diganti total.
Penetrasi pasar hybrid juga belum begitu tinggi. Sebab, kondisi geografis membuat orang masih menyukai mobil bensin. Misalnya, daerah yang kerap banjir. Bayangkan jika mobil hybrid atau listrik terendam banjir, apa yang akan terjadi. Kerusakan yang terjadi akan sangat parah.
Setelah era mobil hybrid, barulah era mobil listrik. Saat itu terjadi, bisnis pom bensinnya sudah berubah layanannya, dari mengisi bensin menjadi stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
Menurutnya, di masa depan orang ke SPBU tidak hanya untuk mengisi bensin atau mengisi daya baterai mobil saja, tetapi juga untuk keperluan lain, seperti istirahat, berbelanja, makan, dan ke toilet. Maka, layanan SPBU di masa depan harus berubah seperti itu jika ingin bertahan.
"SPBU dinilai masyarakat jauh lebih aman dibanding terminal. Karena itu, banyak pengemudi beristirahat dan tidur di SPBU," jelasnya.
Bisnis SPBU saat ini memang berada di persimpangan. Sebab, konsumen mereka di masa mendatang akan berkurang seiring bertambahnya mobil dan motor listrik. Saat ini, populasi mobil listrik di Indonesia sekitar 110 ribu unit, sedangkan motor listrik mencapai 229 ribu unit, belum termasuk sepeda listrik.
Namun, trennya terus mengalami kenaikan, sehingga semua pengusaha SPBU harus mengubah strategi bisnisnya. (zim)
Editor : M. Nurkhozim