Usaha minuman sedang tren. Lihatlah di sekitar Anda, ada berapa banyak penjual? Mulai dari kopi, teh, hingga jus, baik panas maupun dingin, semuanya tersedia.
Dalam lima tahun terakhir, usaha yang paling banyak bermunculan adalah gerai es teh. Pertumbuhannya bak jamur di musim hujan. Bahkan, bisa dibilang setiap 10 meter terdapat penjual es teh, baik yang menggunakan merek dagang berlisensi maupun yang tidak.
Usaha ini memiliki pangsa pasar yang menjanjikan. Produk teh yang ditawarkan pun bervariasi. Selain es teh manis biasa, terdapat berbagai varian lain, seperti teh melati, teh tarik, teh Thailand (thai tea), dan masih banyak lagi.
Beragamnya pilihan menu tersebut membuat es teh diminati oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak muda hingga orang tua. Tak heran jika gerai es teh menjadi salah satu usaha yang digemari dan banyak dibuka oleh masyarakat.
Biaya untuk membuka usaha ini relatif terjangkau, yakni sekitar Rp10 juta hingga Rp25 juta. Dengan biaya tersebut, pelaku usaha umumnya sudah mendapatkan gerai atau gerobak, alat pres, gelas, serta bahan minuman. Kisaran ini merupakan biaya untuk bekerja sama dengan merek es teh tertentu.
Sementara itu, jika membuka usaha secara mandiri tanpa bekerja sama dengan merek tertentu, biaya yang dibutuhkan bisa lebih murah, bahkan di bawah Rp10 juta.
Namun, apakah usaha es teh masih memiliki prospek yang baik?
Pada awalnya, usaha es teh memang cukup prospektif. Peminatnya banyak, ditambah dengan kondisi cuaca Indonesia yang cenderung panas sehingga sangat mendukung usaha ini. Selain itu, sebagian besar masyarakat Indonesia memang gemar mengonsumsi es teh.
Namun, perlu diingat bahwa usaha yang mudah dijalankan juga mudah ditiru oleh pesaing. Sehebat apa pun konsep usaha es teh, jumlah pesaing akan terus bertambah. Jika lima tahun lalu dalam satu kawasan hanya terdapat satu atau dua penjual, kini jumlahnya jauh lebih banyak.
Dalam radius 10–15 meter saja, bisa terdapat beberapa gerai es teh. Semakin banyak gerai yang berdiri, persaingan dalam merebut konsumen pun semakin ketat.
Banyaknya gerai es teh memang menguntungkan konsumen karena pilihan menjadi lebih beragam. Namun, kondisi ini juga mendorong persaingan harga di antara pelaku usaha. Masing-masing berupaya menawarkan harga lebih murah, tentu dengan tetap menjaga kualitas rasa.
Di sisi lain, kondisi tersebut membuat pelaku usaha semakin sulit menutup biaya operasional. Margin keuntungan semakin tipis akibat tekanan harga, sementara konsumen terbagi ke berbagai gerai.
Di sinilah letak tantangan utama dalam usaha gerai es teh.
Meski demikian, minat masyarakat terhadap es teh tidak berkurang. Penurunan keuntungan lebih disebabkan oleh banyaknya pilihan gerai, bukan karena turunnya permintaan. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu melakukan inovasi.
Inovasi merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap pengusaha. Selain inovasi produk, pelaku usaha es teh juga perlu berinovasi dalam pelayanan. Misalnya, menyediakan fasilitas minum di tempat, mengingat sebagian besar gerai es teh saat ini hanya melayani pembelian untuk dibawa pulang (take away).
Selain itu, kemasan juga merupakan identitas yang perlu diperhatikan. Masih banyak gerai es teh yang menggunakan kemasan seadanya tanpa logo yang menarik, bahkan tanpa identitas sama sekali.
Rasa memang penting, tetapi merek (brand) juga tidak kalah penting. Di tengah menjamurnya usaha es teh, keberadaan merek pada kemasan menjadi identitas yang membedakan produk Anda dengan yang lain.
Usaha gerai es teh memang sedang booming. Namun, perlu diingat bahwa usaha ini sangat mudah ditiru. Oleh karena itu, inovasi menjadi kunci untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin sengit. (zim)
Editor : M. Nurkhozim