RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Fluktuasi harga bahan baku mulai dirasakan para produsen tempe di Kota Sate. Dalam tiga bulan terakhir, harga kedelai merangkak naik hingga kisaran 10 persen. Para produsen harus memutar otak, guna mensiasati tanpa menaikkan harga tempe agar pelanggan tak lari.
Najib Nur Roihan, salah satu produsen tempe asal Dukuh Sambong, Desa Patalan, Kecamatan Blora mengungkapkan, kondisi pasar sejauh ini masih relatif stabil meski ada kenaikan harga bahan baku.
Pasokan bahan baku yang terjaga membuat proses produksi tidak terhambat secara signifikan. ‘’Naiknya tidak begitu ekstrem, cuma 10 persen. Jadi tidak terlalu mengganggu produksi,’’ terang Najib.
Menurut Najib, tren kenaikan ini terjadi secara bertahap sejak Februari lalu. Awalnya, harga kedelai per karung (bobot 50 kg) berada di angka Rp 450 ribu. Namun saat ini, harganya sudah menyentuh angka Rp 530 ribu.
Pengalamannya selama 20 tahun menjadi perajin tempe membuatnya cukup lihai membaca situasi. Dibanding menaikkan harga jual yang berisiko memicu gejolak di tingkat konsumen maupun tengkulak, ia lebih memilih opsi mengurangi dimensi produk.
‘’Saat ini untuk menyikapinya kita mengecilkan ukuran. Nanti jika kita naikkan harganya akan bergejolak pada konsumen maupun tengkulak (distributor)," jelasnya.
Tantangan produsen ternyata tak hanya datang dari kedelai. Najib mengaku harga plastik pembungkus juga ikut melambung tinggi. Kondisi double hit ini memaksa produsen benar-benar presisi dalam menentukan ukuran tempe.
Meski begitu, ia menjamin kualitas rasa dan ketebalan tetap menjadi prioritas utama. ‘’Dengan kondisi saat ini, kita tetap menjaga kualitas. Untuk ketebalan pelanggan tidak mempersoalkan, karena pelanggan sudah biasa besar kecilnya tempe saat ini," imbuhnya.
Saat ini, Najib mampu mengolah hingga 70 kg kedelai setiap harinya. Seluruh hasil produksi tersebut dipasarkan ke desa-desa tetangga serta sejumlah pasar tradisional terdekat. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana