RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Profesi freelance desain grafis masih bertahan di tengah perubahan kebutuhan industri kreatif yang kian cepat. Tingginya permintaan konten visual di berbagai platform digital membuka peluang.
Namun, sekaligus mengubah cara pasar menilai sebuah karya. Imam Bagaskara, desainer grafis asal Bojonegoro yang telah berkecimpung selama lima tahun, menilai perubahan paling terasa ada pada orientasi klien.
“Yang paling terasa dengan adanya AI (artificial intelligence) ini adalah pergeseran nilai dari seni itu sendiri,” paparnya. Dirinya menyebut, saat ini permintaan desain lebih banyak menekankan pada jumlah produksi dibandingkan kualitas.
Hal itu, membuat pekerja kreatif sering kali melupakan nilai sebuah karya. “Orang sekarang itu pesan art/desain lebih cenderung kejar di kuantitas daripada kualitas dan nilai kearifan dari art/desain itu sendiri,” tambah Bagas.
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi yang mempercepat proses produksi desain. Ia bahkan mengibaratkan situasi saat ini dengan perubahan besar pada masa lalu.
Baca Juga: Persaingan Jasa Fotografi Semakin Ketat, Perang Harga Hingga Kreativitas
“Saya sih merasanya ini balik kayak zaman revolusi industri di Inggris, cuma bedanya teknologinya berbeda,” ungkapnya. Meski demikian, Bagas menilai desainer tetap memiliki peran penting yang tidak tergantikan, terutama dalam memahami kebutuhan klien.
Pria 29 tahun itu menekankan, kemampuan utama yang harus dimiliki freelancer saat ini bukan hal teknis semata, melainkan cara berpikir dalam menyelesaikan masalah. Hal yang paling wajib kita kuasai adalah kekuatan dalam memecahkan masalah dan memahami kebutuhan klien,” ujarnya.
Dalam praktiknya, menguasai berbagai alat menjadi penting untuk menunjang pekerjaan, termasuk teknologi berbasis AI atau kecerdasan buatan. Namun, ia meyakini teknologi tersebut hanya berfungsi tidak lebih sebagai alat bantu.
“Teknologi khususnya AI itu bukanlah hal yang bisa kita lawan, karena itu hal yang paling benar adalah kita beradaptasi dan mempelajari teknologi AI,” tutur Bagas.
Di tengah perubahan tersebut, freelance desain grafis tetap memiliki peluang berkembang. Namun, keberhasilan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membuat visual menarik, melainkan juga ketepatan dalam membaca kebutuhan pasar yang terus cepat berubah. (kam/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana