RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Profesi fotografer di Bojonegoro kini menghadapi persaingan yang semakin ketat. Perkembangan kamera digital dan media sosial membuat semakin banyak orang tertarik menekuni bidang fotografi, baik secara profesional maupun sebagai pekerjaan sampingan.
Salah satu fotografer Bojonegoro, Elvi Nur Mayang Sari mengatakan, jumlah fotografer yang terus bertambah membuat kompetisi di sektor jasa fotografi semakin terasa.
“Sekarang jauh lebih ketat karena semakin banyak orang yang menjadi fotografer juga di Bojonegoro, terutama sejak kamera digital dan media sosial berkembang pesat,” ujarnya saat dihubungi Radar Bojonegoro, Jumat (13/3).
Menurutnya, meningkatnya jumlah fotografer juga memengaruhi tarif jasa di pasaran. Banyaknya penyedia jasa membuat harga sering kali harus disesuaikan agar tetap kompetitif.
“Dengan banyaknya fotografer membuat tarif jasa sering turun atau harus bersaing harga, sehingga kita sebagai fotografer harus meningkatkan skill dan kreativitas lebih,” jelasnya.
Untuk tetap bertahan di tengah persaingan, fotografer dituntut memiliki strategi tersendiri. Salah satunya dengan membangun identitas atau ciri khas karya serta memperkuat promosi melalui media sosial.
Selain itu, dirinya juga menilai penting bagi fotografer untuk menawarkan konsep foto yang menarik, terutama bagi kalangan generasi muda yang menjadi salah satu pasar potensial.
Saat ini, beberapa jenis jasa fotografi yang masih banyak diminati di daerah antara lain dokumentasi pernikahan, wisuda, hingga foto produk untuk pelaku UMKM. “Event pernikahan, wisuda, dan produk UMKM masih banyak dicari,” katanya.
Sementara itu, fotografer lain, Abdul Mujib yang mulai terjun di dunia fotografi sejak 2019 itu menilai pasar jasa fotografi di daerah Bojonegoro masih cukup menjanjikan. Bahkan, menurutnya, tarif jasa di Bojonegoro cukup kompetitif sehingga menarik minat fotografer dari luar daerah.
“Justru di Bojonegoro ini harga pasarnya bagus sehingga menjadi daya tarik dari fotografer dari luar daerah, baik dari Bojonegoro maupun Lamongan,” ujarnya.
Meski demikian, Mujib sapaannya mengakui di beberapa wilayah masih terdapat tarif jasa yang relatif rendah. Kondisi tersebut membuat fotografer harus semakin kreatif dan menjaga kualitas layanan agar tetap dipercaya oleh klien.
Dengan perkembangan teknologi dan semakin terbukanya peluang promosi melalui media sosial, para fotografer di daerah dituntut terus beradaptasi agar tetap mampu bersaing di industri kreatif yang semakin dinamis. (kam/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana