RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jarum-jarum mesin jahit itu bergerak lebih cepat dari biasanya. Di lorong sempit kawasan Jalan dr Soetomo, tepatnya Lorong 3, suara deraknya nyaris tak berhenti sejak pagi.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, jasa permak pakaian di Kabupaten Blora kebanjiran pelanggan.
Lebaran memang selalu identik dengan yang serba baru. Namun, tak semua orang memilih membeli pakaian baru.
Sebagian warga justru memoles kembali baju lama agar tampak segar saat hari kemenangan tiba.
Di situlah peran para penjahit dan tukang permak menjadi penting. Wiwik, salah satu penjahit rumahan di lokasi tersebut mengaku dalam sepekan terakhir omzetnya melonjak dua kali lipat.
Jika hari biasa ia hanya mengantongi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per hari, kini pendapatannya bisa menembus Rp 200 ribu.
‘’Sekarang bisa Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu sehari. Sudah mulai ramai sejak seminggu ini,” ujarnya saat ditemui kemarin (2/3).
Di ruang kerjanya yang sederhana, tumpukan celana dan baju tersusun rapi menunggu giliran disentuh jarum.
Mayoritas pelanggan datang membawa pakaian lama yang ingin dikecilkan atau diperbaiki. Ada pula yang memesan jahitan baru, meski jumlahnya tak sebanyak permak.
‘’Biasanya yang datang emak-emak. Tapi bapak-bapak juga ada. Kebanyakan mengecilkan baju atau memperbaiki bagian yang sobek,” tambahnya.
Tarif yang dipatok pun ramah di kantong. Satu potong pakaian hanya dikenai ongkos Rp 10 ribu.
Prosesnya relatif cepat dan bisa ditunggu, menjadi alasan pelanggan setia kembali.
Bagi Wiwik, momen Lebaran selalu menjadi musim panen. Mesin jahitnya seakan tak pernah benar-benar berhenti hingga malam. Pesanan diprediksi masih akan terus berdatangan mendekati Lebaran. (hul/ind)
Editor : Bhagas Dani Purwoko