Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tenaga Kerja Kabupaten Bojonegoro di Sektor Pertanian Menyusut, Turun Sebanyak 20,17 Ribu Orang

Dewi Safitri • Sabtu, 3 Januari 2026 | 08:00 WIB
KURANG DIMINATI: Sektor pertanian kurang diminati kalangan anak muda.
KURANG DIMINATI: Sektor pertanian kurang diminati kalangan anak muda.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Meski menjadi sektor lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja terbanyak di Bojonegoro. Namun, sektor pertanian juga mengalami penurunan jumlah tenaga kerja cukup signifikan di 2025.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro, sektor pertanian mendominasi penyerapan tenaga kerja di Bojonegoro. Yakni, sebanyak 44,63 persen. Dibandingkan, sektor jasa 37,65 persen dan sektor industri hanya berkisar pada 17,72 persen per Agustus 2025.

Meski mendominasi, namun terjadi penurunan jumlah tenaga kerja cukup signifikan di sektor pertanian. Yakni, menurun sebanyak 20,17 ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Tepatnya, dari 45,38 persen tenaga kerja sektor pertanian per Agustus 2024 turun menjadi 44,63 persen per Agustus 2025.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro) Darsan menilai, penurunan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian ini tidak lepas dari persepsi generasi muda terhadap dunia pertanian. Yang menganggap bahwa pertanian identik dengan lumpur yang kotor.

‘’Penyebabnya, anak muda di otaknya, sektor pertanian identik dengan lumpur yang kotor. Tidak seperti kerja di kantoran atau tempat yang bersih,’’ ujarnya. Menurutnya, penurunan jumlah tenaga kerja ini akan berdampak pada upah tenaga kerja di sektor pertanian yang akan mengalami kenaikan terus ke depan.

Solusinya, menggunakan teknologi tepat guna dengan biaya murah. Dengan begitu, masih menguntungkan bagi petani. ‘’Saya juga sedang memilih teknologi yang tepat. Sehingga, pertanian masih terus berlanjut,’’ tambahnya.

Terpisah, generasi milenial asal Kecamatan Dander, Tutik mengatakan, tidak tertarik untuk berkerja di sektor pertanian. Begitu pun dengan suaminya. Meskipun keduanya berasal dari keluarga petani. Bahkan, orang tuanya juga memiliki lahan sendiri untuk digarap.

‘’Tidak tertarik. Lebih memilih bekerja di bidang jasa untuk mata pencaharian sehari-hari,’’ katanya. Dia menyampaikan, alasan tidak ingin melanjutkan untuk berkecimpung di dunia pertanian. Karena terkadang, apa yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil.

Selain membutuhkan tenaga cukup banyak. Anjloknya harga di musim panen yang kerap terjadi juga dinilai kurang menguntungkan bagi petani. ‘’Yang saya lihat dari orang tua, harga sering anjlok saat musim panen. Padahal harga bahan pokok pertanian juga tidak murah,’’ pungkasnya. (ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#universitas bojonegoro #Petani #unigoro #tenaga kerja #pekerjaan #Pertanian #Generasi Muda #bojonegoro #Lapangan Pekerjaan