Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Serapan Pupuk Bersubsidi di Bojonegoro Capai 90,71 Persen, Harus Diimbangi Pemakaian Pupuk Organik

Bachtiar Febrianto • Kamis, 11 Desember 2025 | 20:17 WIB
Ilustrasi Pupuk Subsidi  (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Pupuk Subsidi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Setelah bertahun-tahun dihantui kelangkaan pupuk yang membuat petani gelisah setiap memasuki musim tanam, Bojonegoro akhirnya memasuki babak baru. Gudang-gudang pupuk kini kembali penuh, kios-kios tidak lagi diserbu antrean, dan petani bisa bernapas lega. Data terbaru DKPP menunjukkan realisasi pupuk bersubsidi telah menembus 90,71 persen—sebuah capaian yang beberapa tahun lalu terasa mustahil.

Berdasarkan laporan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi tahun ini mencapai 114.015 ton dari total kuota 132.034 ton. Rinciannya:

Adapun sisa pupuk organik yang masih tersedia mencapai 5.910,66 ton.

Sub Koordinator Pupuk dan Sarana Alsintan DKPP Bojonegoro, Tatik Kasiati, menyampaikan bahwa pemerintah daerah bekerja ekstra memastikan kebutuhan petani terpenuhi. “Ketersediaan pupuk bersubsidi mendukung kelancaran kegiatan cocok tanam yang masif. DKPP Bojonegoro telah mengambil langkah proaktif,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemkab Bojonegoro.

Petani Menyambut Musim Tanam Tanpa Rasa Was-Was

Situasi ini menjadi kabar gembira, terutama mengingat dalam beberapa tahun terakhir petani hampir selalu menghadapi krisis pupuk. Kelangkaan, stok yang datang terlambat, hingga harga pupuk non-subsidi yang melambung, membuat banyak petani kesulitan mengatur pola tanam dan biaya produksi.

Kini, kondisi telah berbalik. Petani dapat merencanakan masa tanam dengan lebih stabil. Ketersediaan pupuk di kios pengecer sudah jauh lebih aman, sementara pemerintah daerah menjaga distribusi agar tetap tepat sasaran melalui sistem e-alokasi dan pengawasan lapangan.

Kondisi membaiknya ketersediaan pupuk juga selaras dengan kebijakan nasional yang menambah alokasi pupuk bersubsidi untuk mendukung peningkatan produksi pangan. Kebijakan itu terbukti memberi efek nyata: Di berbagai daerah, termasuk Bojonegoro, petani melaporkan lebih mudah memperoleh pupuk sesuai jatah RDKK.

Di tingkat nasional, peningkatan produksi beras pada tahun ini ikut memperkuat optimisme swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah. Bojonegoro, sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur, berperan penting dalam kontribusi tersebut.

Tantangan Berikutnya: Menjaga Kesuburan Tanah

Meski ketersediaan pupuk kimia kini lebih baik, para penyuluh pertanian mengingatkan bahwa penggunaan pupuk kimia secara berlebihan harus dihindari. Penggunaan yang tidak seimbang bisa merusak struktur dan kesuburan tanah secara perlahan.

Sehingga penting melakukan edukasi kepada petani agar pemupukan kimia diimbangi dengan penggunaan pupuk organik. Jangan sampai petani overload memakai pupuk kimia. Pemahaman penggunaan pupuk organik pada petani harus diperkuat.

Bojonegoro sendiri memiliki potensi pengembangan pupuk organik lokal cukup besar. Beberapa desa telah menggiatkan produksi pupuk organik padat dan cair dari limbah pertanian serta peternakan. Langkah tersebut mendukung program pemerintah pusat mengenai balanced fertilization, yaitu pemupukan berimbang yang menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan ekosistem tanah.

Pangan Makin Krusial, Petani Harus Sejahtera

Di tengah pertumbuhan penduduk dan penyusutan lahan pertanian akibat alih fungsi, sektor pertanian kini semakin krusial. Pemerintah, melalui berbagai kebijakan perlindungan harga gabah, peningkatan akses pupuk, hingga program mekanisasi pertanian, terus mendorong peningkatan kesejahteraan petani.

Dua tujuan utama pembangunan pertanian, yakni mencukupi kebutuhan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani, harus tetap dikawal. Momentum ketersediaan pupuk yang membaik ini harus dijadikan pijakan untuk menjamin produksi pangan lebih stabil ke depan.

Menjaga Momentum Positif

Dengan stok pupuk yang relatif aman, Bojonegoro kini berada pada posisi strategis untuk semakin memantapkan sebagai produsen padi terbesar kedua di Jawa Timur. Petani dapat bekerja tanpa bayang-bayang krisis pupuk, sementara edukasi pemupukan berimbang akan memastikan tanah tetap subur untuk musim tanam berikutnya.

Momentum positif ini adalah modal penting bagi Bojonegoro untuk terus menjadi penopang ketahanan pangan daerah dan nasional. (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Petani #Pertanian #alsintan #RDKK #pupuk #pupuk kimia #bojonegoro #masa tanam #Pupuk Bersubsidi #Pupuk Organik #DKPP Bojonegoro #stok