Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sentuh 5,04 Persen di Triwulan Ketiga: Bisa Kalahkan Negara Maju, Begini Komentar Menko Perekonomian dan Menkeu

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 6 November 2025 | 22:27 WIB
Faktor yang Menghambat Pertumbuhan Ekonomi
Faktor yang Menghambat Pertumbuhan Ekonomi

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) RI merilis capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada twiwulan ketiga (Q3) pada Rabu (5/11). Di akhir kuartal tersebut, pertumbuhan ekonomi telah mencapai 5,04 persen.

Angka tersebut mulai mendekati target terkoreksi yang dicanangkan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto sesusai Perpres Nomor 79 tahun 2025, yakni 5,3 persen. Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian sendiri punya target sedikt lebih rendah, yakni pertumbuhan sebesar 5,2 persen dari tahun ke tahun (yoy).

Rinciannya berdasar rilis BPS, perekonomian berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada Q3 mencapai  Rp6.060 triliun, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.444,8 triliun. Jika dibanding pada peridoe Q3 2024 lalu, pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan sebesar 5,04 persen, sementara jika dibandingkan dengan Q2 tahun ini, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 1,43 persen.

Jika dibanding dengan tahun lalu, peningkatan ekonomi paling pesat dari sisi produksi tercatat dari sektor jasa pendidikan, misal program bimbingan belajar, dengan pertumbuhan sebesar 10,59 persen. Sementara itu, bidang ekspor barang dan jasa menyumbang pertumbuhan paling pesat dari sisi pengeluaran, dengan pertumbuhan sebesar 9,91 persen.

Yang menarik, pertumbuhan ekonomi di Indonesia jauh melesat dibanding berbagai negara tetangga, bahkan negara-negara maju. Di sisi Asia Tenggara, menurut catatan BPS, hanya Vietnam (8,2 persen) dan Malaysia (5,2 persen) yang memiliki pertumbuhan PDB lebih tinggi ketimbang Indonesia. Sementara itu, Singapura hanya memiliki kurang lebih setengah dari laju ekonomi negara tetangganya, dengan besaran 2,9 persen) .

Kemudian menurut BPS dan IMF, Tiongkok juga memiliki pertumbuhan ekonomi di belakang Indonesia pada Q3 2025, yakni sebesar 4,8 persen. Arab Saudi berada di antara Indonesia dan Tiongkok dengan pertumbuhan Q3 sebesar tepat 5 persen. Bahkan Korea Selatan hanya mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 1,7 persen pada Q3 2025.

Menteri Koordinator (Menko)  Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto berpandangan bahwa statistik tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih tergolong kuat,baik dari sisi investasi maupun konsumsi. Hal ini juga membuktikan bahwa kebijakan moneter RI terlaksana dengan baik.

“Pertumbuhan PDB ini menunjukkan kekuatan fundamental ekonomi nasional, didorong konsumsi rumah tangga yang solid, investasi yang terus meningkat, serta kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi dengan baik. Pemerintah berkomitmen menjaga momentum ini melalui dukungan bagi sektor produktif dan hilirisasi industri, percepatan belanja negara, dan penguatan perlindungan sosial,” jelas Airlanggapada Rabu, sebagaimana dikutip dari rilis resmi kementerian.

Senada dengan Airlangga, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa juga berpendapat kuatnya pertumbuhan ekonomi berarti pengelolaan anggaran negara dilaksanakan dengan benar.

“APBN berperan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kinerja dunia usaha agar lebih berdaya saing terutama di tingkat global. Dukungan fiskal juga diberikan melalui penempatan Rp200 triliun kas negara secara prudent untuk memastikan likuiditas ekonomi memadai, termasuk dukungan nonfiskal untuk debottlenecking demi realisasi investasi lebih tinggi secara berkelanjutan,” jelas Purbaya pada Kamis (6/11), sebagaimana dikutip dari rilis kementerian.

Purbaya sendiri bakal mendukung kenaikan lebih tinggi untuk triwulan ke-empat dengan pembentukan  Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) di bidang investasi, dan stimulus sebesar Rp34,2 triliun plus 8 program akselerasi senilai Rp15,7 triliun di bidang permodalan dan konsumsi.

Sementara itu, nilai inflasi ekonomi Indonesia pada akhir Q3 tercatat sebesar 2,86 persen yoy, masih di atas target ideal sebesar 2,5 persen. Kemenko Perekonomian juga mencatat Pemerintah RI masih memiliki cadangan devisa negara sebesar USD 148,7 miliar. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#menko perekonomian #menteri keuangan #badan pusat statistik #perekonomian #Purbaya Yudhi Sadewa #airlangga hartanto #statistik #pertumbuhan ekonomi indonesia #prabowo subianto #Ekonomi #pdb #airlangga #menkeu #kemenko perekonomian #pertumbuhan #bps #Purbaya #pertumbuhan ekonomi