RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah meningkatnya penduduk usia kerja. Para pencari kerja (pencaker) justru mengeluhkan minimnya peluang kerja yang ada di Bojonegoro. Mereka menilai, keberadaan sejumlah perusahaan, termasuk di sektor migas, belum mampu menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, penduduk usia kerja di Bojonegoro mengalami kenaikan pada tahun lalu. Tepatnya, 1.058.708 orang di 2023 meningkat menjadi 1.066.068 orang pada 2024.
Sementara, total warga yang tercatat bekerja mencapai 752.610 orang. Sedangkan, data pengangguran mencapai 34.785 orang pada 2024. Didominasi lulusan SMA umum 18.454, SMA Kejuruan/SMK 6.771, SD 3.647, SMP 2.879, Universitas 2.115, dan diploma 919 orang.
Salah satu pencaker Khoirul Anam mengatakan, peluang kerja di Bojonegoro sangat minim saat ini. Banyaknya penduduk usia kerja tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang ada.
’’Setahu saya, ada banyak perusahaan, termasuk yang bergerak di sektor migas di Bojonegoro ini. Tapi, entah kenapa lapangan kerja di Bojonegoro masih jauh dari kata cukup,” katanya.
Menurut pemuda asal Kecamatan Temayang tersebut, untuk mengatasi permasalahan ini, mungkin diperlukan jejak pendapat di setiap kecamatan secara bergilir. Dalam kesempatan pembuatan AK-1 juga bisa sekalian diisi dengan seminal atau konsultasi.
Sehingga, pemerintah bisa lebih peka terhadap kebutuhan pencaker. Di samping itu, pencaker lokal juga akan lebih siap dalam menghadapi persaingan di dunia kerja. ’’Sebagai pencaker, saya berharap pemerintah bisa lebih jeli mendengarkan keluh kesah kita,” harapnya.
Terkait pelatihan kerja yang telah dilaksanakan oleh Pemkab, alumni Universitas Airlangga Surabaya tersebut menilai, beberapa program sudah baik. Namun, perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
’’Pelatihan seperti operator crane, forklift, atau K3 itu sangat berguna karena tidak semua orang punya alatnya. Tapi, untuk pelatihan seperti make up, barista, atau teknisi motor, menurut saya, mungkin cukup difasilitasi sertifikasinya saja karena bisa dilakukan secara otodidak,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan oleh Evi, remaja asal Kecamatan Dander menilai, ketersediaan lowongan kerja di Bojonegoro terbatas. Sehingga, cukup sulit mencari pekerjaan di sini.
Terlebih, yang sesuai dengan jurusan semasa kuliah. Peluang untuk mendapatkan kerjanya minim. ’’Lowongan kerja terbatas, upah minimum kabupatennya juga kecil,” katanya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana