Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Uang Kertas, Sejarah Singkat Dolar AS

M. Nurkhozim • Senin, 22 September 2025 | 06:12 WIB
KUAT : Dolar Amerika Serikat adalah mata uang internasional.
KUAT : Dolar Amerika Serikat adalah mata uang internasional.

Perang dunia kedua dimenangkan oleh pihak sekutu. Yakni, Inggris, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Perang diakhiri dengan kalahnya Jepang akibat bom atom AS di Hirosima dan Nagasaki.  

Perang dunia medan tempurnya terjadi di Benua Eropa. Sehingga, negara-negara Eropa yang menjadi peserta perang dunia kedua semua babak belur. Fasilitas publik dan ekonominya banyak yang hancur lebur. Baik negara yang kalah perang seperti Jerman dan Italia, maupun negara yang menang perang seperti Inggris dan Prancis.

Usai perang negara-negara Eropa tersebut ingin memulihkan ekonominya. Tentu mereka membutuhkan dana yang besar untuk membangun fasilitas yang hancur akibat perang.

Saat seperti itu AS datang menawarkan bantuan utang kepada negara-negara itu. Sebab, dari semua blok sekutu hanya AS yang tidak terkena dampak perang. Posisi geografis AS cukup jauh dari medan tempur, sehingga negera ini tidak terkena dampak serius. Hanya Pearl Harbour di Kepulauan Hawai saja yang hancur akibat serangan Jepang. Selebihnya, negara itu aman-aman saja.

Negara-negara Eropa membutuhkan banyak uang untuk membangun kembali negaranya. Maka, niat AS ini disambut naik oleh negara-negara Eropa. Sejak saat itulah mata uang AS, yakni dolar menyebar ke seluruh dunia. Menjadi mata yang dibutuhkan banyak negara.

Semua negara di dunia menggunakan dolar sebagai alat tukar internasional. Hukumnya, semakin dibutuhkan sebuah barang, maka harganya akan naik. Itulah dolar AS. Jika semua negara tidak membutuhkan dolar AS, maka nilainya juga akan rendah.

Itulah sejarah singkat kenapa dolar AS menjadi mata uang dunia. Semua mata uang di dunia saat ini diikat atau dikurs-kan dengan dolar AS. Misalnya, rupiah di Indonesia, 1 USD = Rp 16.000. Jika nilai dolar naik, maka rupiah menurun. Begitu sebaliknya.

Begitulah dolar AS, mata uang yang sangat kuat. Sebab, semua negara membutuhkannya.

Usai perang dunia kedua, dolar AS dibeking dengan emas. Setiap beberapa dolar yang dicetak dibeking dengan emas. Misalnya, setiap lima dolar sama dengan 1 gram emas. Maka, semakin banyak dolar yang dicetak semakin banyak emas yang dibutuhkan.

Itulah yang disebut gold standart. Gold standart itulah yang membuat negara-negara Eropa mau menerima dolar AS sebagai alat tukar perdagangan internasional. Sebab, AS tidak sembarangan mencetak uang. Ada beking emasnya. Berarti AS adalah negara yang kaya raya karena emasnya sangat banyak. Jika mereka memegang dolar, maka mereka bisa menukarkannya dengan emas. Begitulah konsep gold standar.

Kian lama AS kian banyak menyebarkan dolar ke negara-negara di dunia. Suplay dolar semakin banyak yanga beredar di seluruh dunia. Dari situ negara-negara Eropa mulai curiga pada AS. ‘’Apa iya AS sekaya itu? Sampai mencetak uang sangat banyak’’.

Negera-negara Eropa itu mulai ada yang menukarkan dolar AS yang mereka miliki jadi emas. Hal itu membuat pemerintah AS panik. Sebab, dolar yang beredar jauh lebih banyak daripada stok emas. Jika semua dolar ditukarkan emas, emasnya tidak akan cukup. Bisa kacau.

Maka, untuk meredam gejolak yang lebih parah, pada 15 Agustus 1971 Presiden AS Ricard Nixon mengumumkan bahwa dolar AS tidak lagi dicetak dengan beking emas. Maka, sejak itulah uang kertas dicetak hanya modal tinta. Dimulailah era inflasi.

Saat ini orang menganggap dolar AS berharga hanya karena percaya bahwa dolar AS berharga. Mereka percaya pada pemerintah AS yang mengeluarkan uang itu.

Kini uang kertas adalah uang kertas. Tidak ada emas dibaliknya.

Nilai uang kertas hanya didasarkan pada supply and demand. Semakin tinggi demand, maka nilai mata uang akan semakin tinggi. Semakin banyak supply, maka nilai mata uang akan semakin rendah.

Dolar AS tinggi nilainya karena permintaannya banyak. Sebab, digunakan sebagai alat tukar perdagangan internasional. Hal itu tidak terjadi pada rupiah. Rupiah bukan alat tukar internasional. Maka, nilai tukar rupiah tidak akan menyamai dolar AS. (zim)

 

 

Editor : M. Nurkhozim
#Bank Indinesia #bojonegoro #rupiah