RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur bukan hanya soal ladang migas dan pengolahan minyak. Dengan luas wilayah administrasi yang mencapai 28 kecamatan, ada sejumlah kecamatan kecil (di tingkat kecamatan) yang menawarkan potensi investasi signifikan. Data terbaru dari BPS Bojonegoro 2025, pemerintah daerah, dan kajian lapangan menunjukkan beberapa kecamatan yang menonjol.
Menurut publikasi Kabupaten Bojonegoro dalam Angka 2025, PDRB Bojonegoro pada tahun 2023 mencapai Rp 97,5 triliun (harga berlaku) dengan PDRB konstan Rp 63,3 triliun. Sektor pertanian dan industri pengolahan masih menjadi tulang punggung pertumbuhan. Meskipun demikian, tantangan antara lain akses infrastruktur di beberapa kecamatan masih terbatas.
Dari sisi distribusi penduduk, kecamatan paling padat berpenduduk adalah Kecamatan Bojonegoro (kota), sedangkan kecamatan terkecil penduduknya misalnya Ngambon. Kondisi ini menunjukkan peluang untuk “menyebar” investasi ke kecamatan pinggiran, dengan biaya lahan lebih rendah dan ruang berkembang yang lebih besar.
Berdasarkan data lapangan dan peta potensi investasi Kabupaten Bojonegoro, berikut beberapa kecamatan yang layak dijadikan prioritas investasi.
1. Kecamatan Kapas — Agropolitan dan energi migas
Kecamatan Kapas sering disebut sebagai “kawasan agropolitan” dan sentra ekonomi berbasis pertanian, hortikultura, dan peternakan. Luas lahan pertanian di Kapas tercatat mencapai lebih dari 4.400 ha (gabungan lahan sawah, lahan kering dan perkebunan), menjadikannya pilihan logis bagi investor agribisnis dan agroindustri.
Selain itu, Kecamatan Kapas juga masuk dalam kawasan lapangan migas Bojonegoro, khususnya di Desa Sukowati, sebagai “desa penghasil migas” dari operasi migas Cepu/Tuban Block. ([Wikipedia][5]) DPMPTSP Bojonegoro juga menyebut Kapas sebagai kecamatan peringkat pertama dalam penanaman modal dalam negeri (PMDN) berdasarkan lokasi kecamatan.
Kenapa menarik
- Kombinasi lahan pertanian yang luas + keberadaan migas membuat Kapas cocok untuk investasi hulu-hilir, seperti agroindustri, cold storage, pengolahan buah salak, dan logistik migas.
- Infrastruktur lintas nasional (Jalan Nasional Rute 20 dan jalur kereta) melintasi Kapas, memudahkan distribusi barang.
2. Kecamatan Gayam — Kawasan Migas dan Baru
Kecamatan Gayam adalah sebuah kecamatan baru (dibentuk sekitar 2012) yang secara administratif dan fungsional “dirancang” menjadi kawasan pendamping kegiatan migas Banyu Urip/Cepu Block.
Penduduknya relatif kecil (sekitar 34.000), artinya ruang untuk pengembangan infrastruktur usaha masih tersedia. Peluang investasi utama di Gayam adalah:
- Infrastruktur pendukung migas (perumahan, logistik, penyedia jasa penunjang).
- Pengembangan desa wisata atau wisma pekerja (akomodasi, perhotelan skala sedang).
- Pengembangan agroindustri buah-buahan atau produk olahan dari hasil pertanian lokal sebagai diversifikasi ekonomi desa migas.
Kelebihannya adalah dukungan pemerintah daerah dan provinsi yang menjadikan Bojonegoro sebagai magnet investasi, khususnya karena konsentrasi migas di kawasan Cepu/Banyu Urip.
3. Kecamatan Kepohbaru / Sumberrejo / Kedungadem — Pertanian Padi, Tembakau, Tebu
Menurut kajian potensi agribisnis Bojonegoro, lahan padi tersebar terutama di Kecamatan Kepohbaru, Sumberrejo, Kedungadem, Dander, dan Kalitidu. Sementara temu data menunjukkan lahan tembakau terbesar berada di Kepohbaru, Sugihwaras, Kedungadem, dan Kanor; dan lahan tebu dominan di Kedungadem dan Sugihwaras.
Kecamatan-kecamatan ini menarik sebab:
- Ketersediaan lahan pertanian besar dan tersebar, memungkinkan investasi di penggilingan padi, pabrik tepung beras, produk olahan tepung, pakan ternak dari hasil samping, dan industri hilir tebu/tembakau.
- Investasi pengolahan lokal bisa meningkatkan nilai tambah dibandingkan sekadar menjual bahan mentah.
Tantangan & Rekomendasi
Walaupun potensi investasi nyata, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:
- Akses Infrastruktur — beberapa kecamatan pinggiran masih memiliki jaringan jalan dan transportasi yang kurang baik, yang bisa memperlambat distribusi dan meningkatkan biaya operasional.
- Ketersediaan listrik dan air bersih — terutama di desa-desa industri kecil buiten kota, harus dipastikan ketersediaan utilitas dasar sebelum mulai konstruksi.
- Penyediaan SDM dan pelatihan lokal — meski lahan tersedia, kemampuan tenaga kerja lokal dalam agroindustri, pengolahan pangan, logistik, dan jasa akan menentukan keberhasilan usaha.
- Perizinan dan fasilitas dukungan pemerintah — meski Bojonegoro telah melakukan kemudahan perizinan dan menyiapkan peta potensi investasi, investor tetap harus aktif berkoordinasi dengan DPMPTSP Bojonegoro dan pemerintah kecamatan terkait.
Rekomendasi strategi:
- Agroindustri terpadu: membangun fasilitas pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pengemasan di sekitar sumber lahan (misalnya Kapas, Kepohbaru, Kedungadem) untuk menghemat biaya angkut dan memaksimalkan nilai tambah.
- Diversifikasi produk hilir: daripada hanya menanam padi, tembakau, atau buah salak, investor bisa mengembangkan produk olahan (misalnya keripik, selai, briket, atau makanan kemasan) dan logistik distribusinya.
- Pemanfaatan migas dan energi lokal: di Kapas dan Gayam, investor bisa memasukkan logistik migas, penyedia jasa akomodasi pekerja, bahkan infrastruktur energi terbarukan seperti pemanfaatan limbah migas untuk pembangkit listrik lokal.
- Kolaborasi pemerintah-desentralisasi: memanfaatkan skema investasi kecil menengah di desa, CSR perusahaan migas, dan memperkuat pelatihan SDM lokal agar usaha tumbuh berkelanjutan dan inklusif.
Kesimpulan
Investasi tidak harus selalu terpusat di ibukota kota besar. Di Kabupaten Bojonegoro, kecamatan seperti Kapas, Gayam, dan kawasan pertanian agraris di Kepohbaru, Sumberrejo, Kedungadem menawarkan peluang nyata dengan risiko yang bisa dikelola. Kunci keberhasilan adalah perencanaan yang matang, pemanfaatan keunggulan komparatif kecamatan (lahan, migas, lokasi strategis), dan sinergi antara investor, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal.
Dengan pendekatan yang tepat, kecamatan-kecamatan ini bisa tumbuh menjadi “sentra investasi pinggiran” yang tidak cuma menghasilkan keuntungan bagi investor, tapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro secara keseluruhan. (feb)
Editor : Hakam Alghivari