RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Jika dulu anak muda bercita-cita menjadi pegawai negeri, kini peta impian mulai bergeser. Media sosial membuka jalan profesi baru, influencer.
Dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pekerja lepas, semakin banyak anak muda di Kota Ledre yang menjadikan konten digital sebagai sumber penghasilan.
Fenomena ini bisa dilihat dari semakin ramainya wajah-wajah lokal yang berseliweran di layar Instagram, TikTok, hingga Facebook. Mereka memproduksi konten, dengan rerata jumlah pengikut puluhan ribu, menjadi modal utama untuk dilirik pelaku usaha lokal hingga nasional.
“Dulu bikin konten hanya buat iseng. Tapi sekarang sudah bisa jadi pekerjaan," ungkap Salman Alfarizi, pemuda asal Desa Bakung, Kecamatan Kanor.
Pria yang memikiki 76 ribu pengikut di instagram tersebut, mulai aktif membuat konten sejak 2023 lalu.
Selain mampu menggaet brand nasional, banyak UMKM di Bojonegoro yang butuh promosi lewat media sosial. "Mereka lebih suka pakai influencer lokal karena sesuai dengan targetnya,” imbuh mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Trunojoyo itu.
Menurutnya, influencer di Bojonegoro saat ini sudah tumbuh bahkan dua kali lipat lebih banyak, dan kian beragam. Mulai dari gaya hidup, kuliner, hingga edukasi. "Saat ini semakin banyak dan beragam, sesuai marketnya masing-masing," imbuhnya.
Tren ini juga ikut mengubah pola pemasaran pelaku usaha. Jika sebelumnya promosi hanya mengandalkan spanduk, kini UMKM mulai mengalihkan ke konten digital.
“Produk cepat dikenal, dan orang percaya karena yang merekomendasikan punya banyak pengikut,” ungkap Fahim Rabbani, pemilik usaha kuliner di Kelurahan Kadipaten.
Meski menjanjikan, jalan menjadi influencer tidak semudah yang terlihat. Konsistensi membuat konten, memahami algoritma media sosial, menjadi tantangan tersendiri. Beberapa di antaranya bahkan menjadikan profesi ini pekerjaan penuh waktu.
“Tidak semua langsung mendapatkan hasil. Banyak yang harus jatuh bangun dulu. Perlu sabar, dan konsisten,” tutur Guntur Riyanto, kreator konten asal Desa/Kecamatan Dander.
Namun, berkat perjuangannya, kini namanya mulai dikenal tak hanya di Bojonegoro saja.
"Awalnya memang sengaja resign, untuk lebih fokus membuat konten. Namun, hasilnya terasa setahun kemudian," ungkapnya.
Pria yang sebelumnya bekerja sebagai desainer grafis itu, kini mendapat penghasilan melebihi upah minimum kabupaten (UMK) sebagai kreator konten. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana