RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Petani jagung di Kecamatan Bubulan dan Ngraho sedang was-was tanaman terserang hama tikus dan babi hutan. Bahkan, para petani terpaksa tidur di ladang untuk menjaga tanamannya.
“Jagung panen kedua di Mei, terus tanam lagi. Sekarang ada yang sudah sekitar 60 hari,” kata Eka Nugraha petani asal Desa Clebung, Kecamatan Bubulan kemarin (28/7).
Dia melanjutkan, curah hujan menjadi salah satu penyebab warga setempat berani menanam jagung kembali. Terlebih, kemarin daerah Desa Clebung hujan membuat petani senang.
“Sepertinya cuaca tahun ini bersahabat dengan petani (jagung),” ujar pria menjabat Kasi Pelayanan Desa Clebung.
Namun, lanjut dia, saat usia jagung sekitar 75-85 hari rawan terjadi serangan. Khususnya babi hutan.
Sehingga petani mulai jaga di gubug saat malam hari dan menggunakan beberapa cara untuk mengusir. Dari petasan, barang berbau, sampai tali yang bisa ditarik dan diberi kaleng.
“Ada yang pakai baubauan. Tujuannya untuk mencegah celeng atau babi hutan masuk ke tegalan (ladang jagung). Tapi, petani sudah biasa. Kalau (jagung) sudah berumur sudah aman. Kalau yang di dalam desa aman, yang babi hutan di kawasan hutan,” bebernya.
Eka mengatakan, untuk harga saat ini di angka Rp 5.200-5.300 per kilogram (kg) jagung kering. Salah seorang petani jagung Kecamatan Ngraho menambahkan, tanaman jagung di daerahnya juga rawan terserang hama. Namun, kali ini tikus.
“Jadi, tersisa bonggolnya saja. Banyak gagal panen,” pungkas dia. (yna/msu)