Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dolan Pasar: 45 Kios Pasar Padangan Ditinggalkan Pedagang, Kian Sepi Setelah Direnovasi 2014

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 21 Maret 2025 | 19:39 WIB
PUSAT PERDAGANGAN: Pasar Padangan memiliki 143 kios, yang dibangun pada 2014 silam. Sekitar 45 kios kosong. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)
PUSAT PERDAGANGAN: Pasar Padangan memiliki 143 kios, yang dibangun pada 2014 silam. Sekitar 45 kios kosong. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Keluhan pedagang terdengar di tengah transaksi di Pasar Padangan. Pedagang mengeluhkan sepinya pasar yang diklaim berdiri sejak zaman Belanda itu.

Tidak seperti dulu, pusat perbelanjaan tradisional terletak di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan tersebut kini mengalami penurunan pengunjung. Bahkan dari jumlah total 143 kios yang tersedia, hanya sekitar 98 kios yang terisi dan aktif digunakan pedagang.

Menurut Yanto, salah satu pegdang Pasar Padangan mengatakan, Pasar Padangan sudah ada sejak dulu. Bahkan, sejak jaman Belanda.

Kondisi Pasar Padangan dulu ramai. Pedagang dan pengunjung memenuhi area dalam maupun luar pasar. Namun, sejak dibangun pada 2014 lalu, kondisi pasar semakin sepi.

‘’Pasar ini sudah ada sejak jaman Belanda. Bahkan di sekitar pasar juga masih ada beberapa orang China (Tionghoa). Dulu bangunan pasar dari kayu semua, orang-orang pada masuk sini, jualan sampai malam,’’ kata jasa tukang cukur yang telah puluhan tahun di Pasar Padangan tersebut.

Menurutnya, kondisi Pasar Padangan yang semakin sepi karena kondisi pasar setelah dibangun. Toko yang sebelumnya besar, berganti menjadi bangunan kecil.

Tidak sedikit juga pedagang yang memilih tutup karena tidak mampu membayar sewa. Beberapa di antaranya memilih untuk berpindah pasar untuk berjualan.

‘’Toko besar jadi kecil semua. Mlayu, pindah ke pasar lain. Beberapa kios mau dijual karena meski tidak ditempati, tetap harus membayar,’’ terangnya.

Hal sama disampaikan Rumini, salah satu pedagang ikan yang telah berjualan di Pasar Padangan sejak tahun 2.000, terdapat perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Jumlah pembeli yang semakin berkurang membuat banyak pedagang memilih untuk berhenti berjualan.

‘’Sekarang banyak pembeli yang lebih suka belanja online. Jadi, yang datang ke pasar semakin sedikit. Pedagang yang dulu jualan di sini (Pasar Padangan) banyak yang sudah berhenti,’’ ujarnya.

Pasar Padangan beroperasi mulai sekitar pukul 07.00 hingga 13.00 siang. Dengan waktu operasional yang hanya sekitar setengah hari tersebut. Dan, dengan kondisi jumlah pengunjung yang semakin berkurang. Membuat pedagang klabakan.

‘’Terdapat biaya kebersihan harian juga untuk para pedagang. Untuk lapak biasa, sekitar Rp 2.500 per-hari. Sedangkan, untuk pemilih toko dikenakan biaya Rp 4.000 per-hari,’’ ungkapnya.

Pengelola Pasar Padangan Zaenal Abidin mengatakan, untuk mengatasi permasalahan sepinya pasar, pengelola mendorong pedagang berinovasi, salah satunya dengan merambah dunia digital.

Zaenal Abidin dan timnya bahkan tidak hanya mengadakan sosialisasi, tetapi juga mendatangi kios-kios secara langsung untuk memberikan pemahaman terkait manfaat berjualan online.

‘’ Kami sudah sering mengundang mereka (pedagang) untuk sosialisasi, tetapi banyak yang tidak datang. Akhirnya, kami memilih mendatangi secara langsung untuk memberikan pemahaman tentang berjualan online,’’ jelas Zaenal Abidin. (nnd/ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Lapak #pengelola #pasar #pasar tradisional #belanja online #Padangan #kios #bojonegoro #sewa #renovasi #Kebersihan #kuncen #Sosialisasi #Pedagang