Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Eksistensi Pasar di Tambakrejo Pertahankan Tradisi, Rutin Tahlilan dan Pengajian Bersama, Dikelola Paguyuban Pedagang

Hakam Alghivari • Senin, 17 Maret 2025 | 20:53 WIB

 

SEMRINGAH: Senyum semringah para pedagang sayur di Pasar Sukorejo, Kecamatan Tambakrejo. Mereka kompak menjaga tradisi budaya hingga keagamaan.
SEMRINGAH: Senyum semringah para pedagang sayur di Pasar Sukorejo, Kecamatan Tambakrejo. Mereka kompak menjaga tradisi budaya hingga keagamaan.

 

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Bertahannya keberadaan pasar-pasar tradisional di Kecamatan Tambakrejo, ternyata tak bisa dilepaskan dari tradisi melalui kegiataan budaya hingga keagamaan. Seperti yang terus dijalankan di Pasar Sukorejo, Kecamatan Tambakrejo.

Tak sekadar menjadi tempat jual beli. Pedagang dan pembeli, punya keterikatan melalui kegiatan keagamaan. ’’Ini sudah jadi tradisi turun-temurun. Setiap Minggu Wage, kami mengadakan tahlilan bersama untuk mendoakan keberkahan rezeki dan keselamatan semua pedagang,” ungkap Anik, seorang penjual jajanan pasar. 

Menurutnya, kegiatan tersebut bahkan sudah terjadi lebih dari 30 tahun terakhir. Bahkan, selain rutin tahlilan, setiap tahun pada bulan Muharam atau Sura, paguyuban pasar juga menggelar pengajian akbar.

’’Pengajian ini bagian dari syukuran tahunan kami. Biasanya, kami mengundang ustaz untuk memberikan ceramah, dan setelahnya ada doa bersama,” imbuhnya. Diketahui, pusat ekonomi warga Desa Sukorejo dengan hari pasaran Pahing itu, dikelola secara mandiri oleh paguyuban pedagang.

Pedagang membayar biaya kebersihan, berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 3.000 per hari.  ’’Di sini tidak ada biaya sewa lapak yang besar seperti di pasar lain. Kami hanya membayar untuk kebersihan, jadi lebih ringan bagi pedagang kecil seperti saya,” ujar Suratmi, salah seorang pedagang sayur. 

Menurutnya, tak hanya rutinitas tahlil hingga pengajian. Berbaga acara pun digelar menguatkan silaturahmi antara para pedagang dan masyarakat sekitar. ’’Paguyuban pedagang juga aktif mengadakan lomba seperti tarik tambang dan balap karung setiap Agustus,” imbuhnya.

Terpisah, pasar lain di Kecamatan Tambakrejo, yakni Pasar Krempyeng. Telah menjadi  pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang hanya buka pada hari pasaran Pahing, Pon, dan Kliwon. Uniknya, Pasar Krempyeng tidak memiliki pengelola resmi, pasar tersebut tetap bertahan hingga kini.

’’Kami tidak ada kepala pasar seperti di pasar besar,” terang Harini, salah satu pedagang. Bahkan, pasar yang diklaim telah bukan sejak awal kemerdekaan itu, tetap eksis. Bahkan, telah menghidupi keluarga secara turun temurun. Meski hanya beroperasi sejak dini hari hingga pukul 08.00 WIB.

’’Saya meneruskan usaha orang tua saya di sini. Pasar ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum saya lahir,”   terang Harini. Menurutnya, pendapatan para pedagang di pasar ini mengalami peningkatan saat musim panen tiba. Hal ini disebabkan oleh mayoritas penduduk setempat yang bekerja sebagai petani. (dan/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#tambakrejo #pasar #Budaya #pasar tradisional #tahlilan #agama #bojonegoro