RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Selain Pasar Temayang, Kecamatan Temayang juga memiliki Pasar Tradisional Desa Jono. Jika Pasar Temayang ramai di pasaran Legi, Pasar Jono bahkan hanya beroperasi pada Pahing dan Kliwon dalam sistem penanggalan Jawa.
Pasar memiliki 33 kios tersebut menjual beragam kebutuhan, mulai dari pakaian, sayur-mayur, hingga perlengkapan rumah tangga. Namun, keberadaannya semakin terancam karena jumlah pembeli yang terus berkurang.
Meski begitu, Pasar berada di Jalan Raya Dander-Temayang tersebut tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Operasional pasar dimulai sejak pukul 03.00 WIB dan mulai sepi sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.
Para pedagang dikenakan retribusi kebersihan sebesar seribu hingga dua ribu rupiah setiap pasaran, yang tergolong ringan dibandingkan pasar-pasar lain.
Warni, salah satu pedagang yang sudah berjualan sejak tahun 1999, masih setia berjualan di Pasar Jono meskipun jumlah pembeli semakin berkurang. Dulu, ia menjual ikan yang didatangkan dari Lamongan, namun kini beralih menjual kopi, mie, dan nasi pecel.
‘’Pasar ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Dulu ramai sekali, tapi sekarang lebih sepi. Kalau pas pasaran masih lumayan ada pembeli, tapi tidak sebanyak dulu,’’ ungkap Warni saat ditemui di lapaknya.
Pasar Jono pernah mengalami renovasi di bagian depan sekitar tujuh tahun lalu, namun perbaikan tersebut belum cukup untuk meningkatkan daya tarik pasar. Banyaknya warga yang beralih ke pasar modern dan toko kelontong membuat aktivitas perdagangan di sini semakin menurun.
Meskipun sepi, masih ada warga setia berbelanja di pasar ini. Harga yang lebih murah dan barang beragam menjadi alasan.
Sriani warga Desa Jono, Kecamatan Temayang mengatakan lebih memilih berbelanja di Pasar Jono dibandingkan tempat lain. Kedekatan dengan pedagang membuatnya setia berbelanja di pasar tersebut.
‘’Saya lebih suka belanja di sini karena harganya lebih murah dan bisa menawar. Selain itu, suasananya lebih nyaman karena sudah kenal sama pedagangnya,” ungkapnya.
Sriani menyadari bahwa pasar ini membutuhkan inovasi agar tetap bertahan. Terutama penambahan fasilitas seperti tempat parkir yang lebih luas serta promosi pasar agar lebih dikenal oleh warga luar desa. (nnd/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana