RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hiruk-pikuk suara tawar menawar, menjadi salah satu ciri khas pasar tradisional. Meski keramaian itu kian berkurang dari waktu ke waktu.
Namun, banyak juga yang masih bertahan dan memiliki pelanggannya sendiri. Seperti Pasar Desa Punggur, Kecamatan Purwosari ini.
Pasar yang direnovasi pada 2002 lalu itu, dirasakan pedagang mulai menurun. Selain karena kian banyaknya toko modern di kawasan setempat, juga disebababkan kurangnya inovasi untuk menarik pembeli.
‘’Dulu pembeli di pasar ini banyak, tapi sekarang berkurang karena masyarakat lebih memilih belanja di Indomaret atau warung keliling. Kami berharap ada perubahan supaya pasar ini bisa lebih menarik bagi pembeli,’’ tutur Ndakir, pedagang di Pasar Punggur.
Pria yang berjualan kebutuhan rumah tangga itu menambahkan, dirinya dan pedagang lain merasakan benar dampak dari menurunnya jumlah pembeli.
‘’Kami ingin ada perubahan yang bisa menarik pengunjung. Kalau pasarnya lebih ramai, tentu pedagang juga akan lebih bersemangat,’’ ujar Ndakir.
Meskip menghadapi tantangan, suasana kekeluargaan di antara pedagang tetap terjaga. Bahkan, tak jarang antarpedagang membantu satu sama lain dan menganggap pasar sebagai rumah kedua.
‘’Di sini (pasar) kami bukan sekadar berdagang, tapi juga bersosialisasi seperti keluarga sendiri,” imbuhnya.
Diketahui, Pasar Punggur dulu dikenal dengan nama Pasar Templek karena para pedagang hanya berjualan di pinggir jalan raya. Lalu pada 2002 pasar tersebut direnovasi, dan terdapat banyak kios di dalamnya.
Ahmad Masyhari, seorang penjahit yang telah 30 tahun membuka jasanya di Pasar Punggur mengungkapkan, setelah direnovasi, pasarnya jadi lebih luas dan banyak kios baru. Kemudian, Pasar Punggur dikelola langsung oleh pemerintah desa.
‘’Namun, sekarang sudah kalah saing dan warga memilih minimarket,” terangnya.
Meski demikian, dirinya berharap kondisi pasar setidaknya bisa lebih membaik. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana