BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Pasar tradisional tidak hanya menjadi pusat ekonomi warga sekitar. Juga sebagai media interaksi sosial. Tak banyak dari pedagang dan pembeli merasa terikat secara emosional saat melakukan transaksi.
Dengan komunikasi intens, mulai ketersediaan barang, harga, hingga tawar-menawar. Meski perkembangan teknologi kian pesat dan menyuguhkan berbagai kemudahan dengan online. Namun, tetap ada yang tidak tergantikan.
Interaksi sosial penjual dan pembeli secara langsung. Suasana yang tidak dapat dibeli dengan teknologi. Seperti transaksi di Pasar Desa Sidobandung, Kecamatan Balen. Menjadi pusat aktivitas ekonomi warga setempat. Memiliki pelanggan tetap jadi salah satu alasan tetap bertahan.
‘’Tetap jual secara konvensional karena kami punya pelanggan tetap. Kalau tutup kasihan pelanggan yang sudah langganan sejak lama,’’ ucap Arinda salah satu pedagang sembako di Pasar Desa Sidobandung.
Dia mengaku, tidak memiliki rencana berjualan secara online di e-commerce. Lebih memilih melayani pesanan melalui pesan singkat atau SMS dan WA. Dan meneruskan usaha keluarga secara turun-menurun.
Karena, komunikasi dilakukan di secara langsung terutama di pasar tradisional lebih dari sekadar hubungan penjual dan pembeli. Ada kedekatan dan ikatan sosial yang tumbuh secara erat. ‘’Hubungan kami dan pelanggan sudah seperti teman sendiri,’’ katanya.
Arinda melanjutkan, hubungan dijalin tidak hanya antara pedagang dan pembeli. Tapi, juga sesama penjual. Contohnya rutin mengadakan arisan dan saling membantu jika ada yang membutuhkan. ‘’Persaingan tetap ada terutama di kalangan pedagang baru. Tapi berlangsung sehat dan mendorong peningkatan kualitas pelayanan,’’ ujarnya.
Dia menambahkan, Pasar Sidobandung lebih ramai saat panen dan hari pasaran. Di antaranya Wage dan Legi. Aktivitas pasar meningkat signifikan. Namun, ia tetap berharap, ada renovasi. ‘’Butuh renovasi untuk meningkatkan kenyamanan. Meski cukup menantang karena sebagian besar kios milik pribadi bukan sewa,’’ tuturnya.
Hafizha Ardaniar salah satu pembeli menyampaikan, belanja di pasar tradisional lebih menguntungkan. Karena harga terjangkau, bisa ditawar, dan dapat memilih barang secara langsung. "Saya punya langganan sendiri. Jadi, belanjanya lebih nyaman. Suasananya juga akrab karena sering bertemu orang yang sama," ucapnya.
Menurut Hafizha, pasar tradisional masih relevan di era modern saat ini. Interaksi sosial yang dibangun membuat nyaman dan hangat. Ada keberagaman budaya, dukungan atas ekonomi lokal, harga fleksibel, dan akses mudah untuk semua kalangan.
‘’Jadi, pasar ini tidak hanya untuk transaksi jual beli tapi juga ruang sosial yang menghubungkan identitas dan budaya warga setempat,’’ tuturnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa (Kades) Sidobandung, Kecamatan Balen Sukijan mengatakan, Pasar Sidobandung merupakan satu-satunya pasar tradisional di kecamatan setempat.
‘’Iya, satu-satunya pasar tradisional di Kecamatan Balen. Sudah ada sejak saya belum lahir,’’ ucapnya. (oss/yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana