BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Hilir-mudik pedagang memadati lantai satu Pasar Kalitidu, Bojonegoro. Mulai dari pedagang sayur, bahan pokok, hingga aneka kebutuhan rumah tangga lainnya.
Berbeda dengan lantai satu, di lantai dua pada bangunan pasar tersebut justru tampak lengang. Sepi pedagang, terlebih pembeli. Bahkan, tak jarang juga kios-kios di lantai atas terlihat tutup.
Staf Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disdagkop UM) Kabupaten Bojonegoro yang bertugas di Pasar Kalitidu Nur Kholis Majid menyampaikan, Pasar Kalitidu total memiliki 480 kios, los, dan bidak yang disewakan dengan tarif berbeda, mulai Rp 80.000, tergantung luasnya.
Namun, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 352 unit yang ditempati oleh pedagang. Sementara, sisanya sebanyak 128 kios dibiarkan kosong karena berbagai alasan. Salah satunya, tidak ada pedagang yang menyewa.
’’Di tengah maraknya toko online, banyak pedagang mengeluhkan sepinya pasar. Akibat peralihan konsumen ke platform digital,” ujarnya. Menurutnya, untuk mengatasi hal tersebut, pihak pengelola pasar berupaya menerapkan inovasi dengan menjual dagangan secara online.
Program ini dirancang bekerja sama dengan pihak bank untuk mempermudah pedagang dalam memasarkan produk secara digital. Pihak bank telah berulang kali memberikan sosialisasi kepada para pedagang mengenai sistem penjualan online.
Namun, banyak pedagang yang masih kesulitan beradaptasi dengan teknologi. Selain itu, merasa enggan untuk belajar. ’’Akibatnya, hingga saat ini, program tersebut belum berjalan sesuai harapan,” lanjutnya.
Berdasar laman resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Pasar Kalitidu selesai dibangun pada 2016 lalu. Diresmikan secara langsung oleh Bupati Bojonegoro kala itu, yakni Bupati Suyoto.
Kini, Pasar Kalitidu terlihat megah dengan bangunan dua lantai. Namun, di balik megahnya bangunan, justru tingkat keramaian pasar tersebut semakin menurun.
Sumintri salah satu pedagang di Pasar Kalitidu mengatakan, pasar mulai beroperasi sejak pukul 05.00 WIB. Tapi, sebelum jam operasional mulai, sudah banyak pedagang yang berjualan di depan pasar.
Mereka memilih menggelar dagangan di area luar pasar, sebelum pasar dibuka. Kemudian, beberapa pedagang kembali melanjutkan aktivitas jualan di dalam pasar ketika pasar sudah dibuka.
’’Beberapa pedagang tetap melanjutkan aktivitas di dalam pasar setelah pintu dibuka. Sementara, yang lain memilih pulang lebih awal,” pungkasnya. (nnd/oss/ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana