BLORA, Radar Bojonegoro - Kelangkaan elpiji tiga kilogram (gas melon) yang terjadi di berbagai wilayah menjadi perbincangan nasional hingga daerah. Namun, kelangkaan tersebut tak berarti bagi sekitar 700 KK di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan.
Pasalnya, warga di desa ini telah menggunakan jaringan gas (jargas) yang dialirkan dari sumur PT Pertamina. Diketahui, jargas yang telah terpasang di masing-masing rumah ini tentunya membuat masyarakat di sini tidak khawatir bila terjadi kelangkaan gas melon ini.
Kepala Desa (Kades) Sumber Aries Susanto membenarkan, bahwa saat ini di Desa Sumber baru ada 600-700 KK yang menggunakan jargas. ’’Dari jumlah itu saat ini berada di Dusun Sumber dan Jompong, diharapkan ke depannya juga bisa menjangkau seluruh wilayah Desa Sumber yang mencapai 13 dusun, terlebih lagi bisa menjangkau desa-desa sekitar,” terangnya.
Menurutnya, penggunaan gas alam sangat bermanfaat untuk masyarakat. Menurutnya, lebih hemat dan gampang. ’’Kalau warga pas masak tidak takut habis dan harganya juga murah. Sebulan mereka terkadang hanya habis Rp 40 ribu saja,” ujarnya.
Sutris salah satu warga Desa sumber mengatakan, sulitnya elpiji belakangan ini baginya tidak menjadi persolan bagi keluarganya. ‘’Alhamdulillah keluarga kami masih bisa beraktivitas memasak seperti biasanya,’’ ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, masyarakat digegerkan larangan pengecer menjual gas elpiji melon awal Februari. Kemudian, banyak protes warga, sehingga Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan untuk pengecer kembali menjual gas elpiji dan menjadi subpangkalan.
Hal itu pun membuat publik geram. Seperti halnya warga Blora yang sehari-harinya menjadi pedagang elpiji eceran. (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana