RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Desa Kedungsari di Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro memiliki beragam potensi yang belum sepenuhnya digali. Terutama di bidang pariwisata dan industri kecil.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Muhamad Alamudi, berbagai upaya tengah dilakukan untuk meningkatkan perekonomian lokal sembari menjaga keindahan alam dan warisan budaya desa tersebut.
Salah satu aset terbesar Desa Kedungsari adalah Waduk Gongseng. Namun, menurut Alamudi, waduk ini tidak dibuka untuk umum, kecuali pada saat-saat tertentu. ’’Waduk mungkin hanya akan dibuka pada acara-acara khusus, tapi di sekitar waduk, kami memiliki hutan desa yang sedang kami kembangkan menjadi destinasi wisata,” jelasnya.
Hutan desa yang luasnya sekitar 400 hektare ini tidak hanya menjadi kekayaan ekologis. Tetapi, juga dimanfaatkan sebagai lahan pertanian oleh warga setempat. Sebagian besar warga desa, yang memiliki lahan pertanian terbatas di desa, bertani di kawasan hutan Perhutani dan hutan desa, memanfaatkan tanah subur untuk menopang kehidupan mereka.
Selain pertanian, Kedungsari juga fokus pada pengembangan industri kecil. ’’Kami memiliki kelompok IKM (industri kecil menengah) dengan anggota sekitar 30 orang. Untuk mendukung mereka, kami secara rutin mengadakan pelatihan dan setiap tahun mengadakan bazar yang bertepatan dengan acara Sedekah Bumi dan Hari Kemerdekaan RI,” kata Alamudi.
Bazar ini telah menjadi acara tahunan yang berlangsung selama sepuluh hari, menampilkan tidak hanya produk lokal, tetapi juga pagelaran seni dari masyarakat. ’’Tiap RT wajib menampilkan pertunjukan seni, dan alhamdulillah, acara ini sukses besar,” tambahnya.
Salah satu produk unggulan desa ini adalah batik, yang sudah dikenal hingga di luar Bojonegoro. ’’Batik kami dipasarkan secara online, dan untuk acara-acara batik, kami setidaknya ikut serta dalam event di tingkat kabupaten,” ungkap Alamudi, menekankan peran teknologi dalam memperluas pasar mereka.
Untuk terus mendukung potensi ekonomi desa, pemerintah desa berkomitmen untuk menyelenggarakan bazar tahunan tersebut. Selain itu, masyarakat Desa Kedungsari juga menunjukkan inovasi yang luar biasa, terutama di bidang kuliner.
’’Warga kami banyak melakukan inovasi, salah satunya membuat permen dari pepaya muda, madu mongso dari pepaya muda, dan masih banyak lagi inovasi-inovasi lainnya,” tutur Alamudi dengan bangga.
Di bidang seni, desa ini juga memiliki kelompok seni tersendiri, yang rencananya akan menjadi bagian dari rencana pariwisata desa ke depan. Alamudi merencanakan pembangunan rest area yang akan menjadi pusat bagi para wisatawan, dilengkapi dengan toko-toko UMKM yang menjual produk lokal Kedungsari dan area pertunjukan seni.
’’Nantinya, orang-orang yang beristirahat dalam perjalanan ke Nganjuk bisa menikmati kesenian lokal dan membeli oleh-oleh khas Bojonegoro di rest area desa Kedungsari,” jelasnya.
Ke depan, Alamudi berharap agar masyarakat semakin sadar akan potensi yang dimiliki desa dan mendukung rencana-rencana pembangunan. “Harapan saya, semoga warga desa ke depannya lebih sadar akan potensi yang kita miliki, dan rencana-rencana yang sedang disiapkan semoga segera terselesaikan,” pungkasnya. (fra/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana