RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Usaha Tahu Ledok di Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro, bukanlah sekadar bisnis biasa. Berawal dari masa penjajahan Jepang, sebelum Indonesia merdeka, Tahu Ledok telah menjadi bagian dari sejarah kuliner Bojonegoro.
Riyadi, penerus generasi keempat dari usaha keluarga ini, kini melanjutkan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyangnya. ’’Usaha ini sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang, kalau tidak salah. Saya sendiri mulai meneruskan usaha ini sejak tahun 2000,” ungkap Riyadi.
Keunikan Tahu Ledok terletak pada cara pembuatannya yang masih mempertahankan metode tradisional. Proses pengolahan tahu dilakukan dengan digodok, bukan dikukus, tanpa bahan pengawet, dan tanpa campuran bahan tambahan apapun.
Riyadi juga menjelaskan, bahwa bahan bakar yang digunakan masih menggunakan kayu bakar. ’’Ini yang membuat tahu kami berbeda, cita rasa tetap terjaga karena teknik tradisional ini,” tambahnya. Dalam sehari, Riyadi bisa menghabiskan sekitar 250 kilogram kedelai, yang diolah menjadi sekitar 2.500 tahu.
Meski proses produksi cukup besar, Riyadi tetap konsisten dalam menjaga kualitas produknya. ’’Tantangan terbesar kami ada pada fluktuasi harga kedelai dan kerusakan yang mungkin terjadi saat produksi. Tapi, kami berusaha tetap menjaga harga tahu agar tetap stabil, walaupun harga bahan baku kadang mahal,” jelas Riyadi.
Pemasaran Tahu Ledok juga telah meluas hingga ke luar Bojonegoro. Selain pasar-pasar lokal di Bojonegoro, Riyadi mengirim produknya hingga ke Blora dan Surabaya. ’’Pengiriman sudah dimulai sejak dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, supaya tahu segar bisa sampai di pasar tepat waktu,” tuturnya.
Tahu Ledok juga dipasarkan melalui berbagai platform digital seperti Grab, Gojek, dan layanan ojek online lokal, yang semakin memudahkan akses konsumen. Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang beragam, Tahu Ledok menawarkan beberapa varian, dari tahu kotak kecil, sedang, besar, hingga tahu bulat.
Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 200 hingga Rp 800 per buah, tergantung ukuran dan jenisnya. Selain menjalankan produksi tahu, Riyadi juga membuka pintu bagi mereka yang ingin belajar tentang proses pembuatan tahu.
Banyak pengunjung yang datang untuk melihat langsung proses pembuatan tahu Ledok, baik sebagai bagian dari wisata edukasi maupun belajar langsung dari Riyadi dan timnya. ’’Alhamdulillah, saya senang karena banyak yang ingin belajar cara pembuatan tahu di sini, seperti wisata edukasi gitu,” ujarnya.
Ke depan, Riyadi berharap usaha yang telah diwariskan kepadanya ini bisa terus bertahan dan berkembang. ’’Harapan saya, semoga usaha ini berjalan lancar, semakin sukses, dan bisa maju terus,” tutupnya penuh optimisme.
Dengan dedikasi dan komitmen Riyadi untuk mempertahankan tradisi sekaligus mengembangkan usaha, Tahu Ledok tetap menjadi ikon kuliner Bojonegoro yang tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga sejarah dan nilai budaya. (fra/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana