BLORA, Radar Bojonegoro – Luas tanaman tembakau di Blora meningkat tahun ini. Dinas Pangan, Pertanian, Pertanian, dan Peternakan (DP4) Blora mencatat luas tanaman tembakau di 2024 mencapai 2.000 hektare. Tahun lalu hanya 800 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Holtikultura, Perkebunan dan Peternakan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP 4) Blora Rosalia Diah Erawati mengatakan, data peningkatan jumlah lahan petani tembakau berdasarkan catatan dari penyuluh setiap kecamatan. Pihaknya mengarahkan petani untuk menanam komoditas lain selain komoditas pangan seperti padi dan jagung. Pada musim kemarau panjang banyak petani yang beralih untuk menanam komoditas tembakau.
‘’Pada musim seperti ini sangat membantu petani. Tanaman tembakau ini tidak perlu membutuhkan banyak air," ucapnya.
Pada 2023 tercatat ada 800 hektare lahan tembakau. Peningkatan itu dimulai tahun ini dengan luas sebanyak 2.000 hektare lahan tembakau.
"Kami berharap harga tembakau tidak mengalami penurunan, tetap stabil dan bagus. Agar para petani ini bisa menikmati hasil panennya di musim kemarau ini," ujarnya.
Salah satu petani tembakau di Desa Balong, Kecamatan Jepon Bayaki mengatakan, saat musim kemarau tiba ia lebih memilih menanam komoditas tembakau daripada komoditas lain seperti padi dan jagung. Sebab, tembakau tahan cuaca panas. Selain itu, hama tanaman tembakau tidak banyak dan nilai jual tembakau tiga kali lipat daripada padi dan jagung.
‘’Musim kemarau itu selalu saya tanami tembakau. Ditambah, pada 2017 saya sudah ikut bekerja sama dengan salah satu pabrik pengepul tembakau di Rembang," ujarnya.
Perawatan tembakau lebih mudah. Hanya perlu pemupukan rutin tiga kali sebulan. Ia memiliki lahan tembakau seluas 1 hektare dengan populasi tembakau sebanyak 26.000 tanaman.
‘’Dari awal penanaman sampai panen hasil tembakau itu selama tiga bulan. Secara ekonomi kalau musim kemarau sangat menguntungkan. Keuntungan tanaman tembakau ini bisa mencapai 40 persen dari modal awal penanaman," jelasnya. (hul/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana