RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian dan peternakan, cerita dari peternak ayam petelur di Desa Kacangan, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro layak dijadikan inspirasi.
Narko salah satu anggota Kelompok Peternak Kacangan (KPK) berbagi kisah perjalanannya sebagai peternak ayam petelur yang dimulai dengan kegagalan. Namun, berakhir dengan pencapaian luar biasa.
Kelompok Peternak Kacangan (KPK) didirikan pada 2013 oleh empat orang, termasuk Narko. Pada awalnya, kelompok ini fokus pada usaha peternakan ayam pedaging. Namun, mereka mengalami kegagalan yang signifikan dan harus vakum selama beberapa tahun.
’’Awal mula dari ayam pedaging, tapi gagal dan kami vakum beberapa tahun dan mulai lagi di tahun 2018,” ujar Narko. Kegagalan ini hampir menghentikan aktivitas mereka sebagai peternak. Namun, di awal 2018, kelompok tersebut memutuskan untuk mencoba kembali, kali ini beralih ke usaha ayam petelur.
Dengan semangat baru, keempat anggota KPK mulai membangun kembali peternakan mereka, dibantu dengan hibah dari pemerintah provinsi. Hibah tersebut menjadi kunci kebangkitan mereka setelah kegagalan sebelumnya.
’’Awalnya, kami hanya punya 120 ekor ayam per orang, tapi berkat dana hibah, populasi ayam kami meningkat hingga 500 sampai 1.000 ekor ayam petelur,” katanya. Keberhasilan tersebut tidak hanya membawa stabilitas ekonomi bagi anggota kelompok, tetapi juga membuka peluang bagi perkembangan lebih lanjut.
Namun, peternakan ayam petelur bukanlah tanpa tantangan. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam perawatan ayam petelur adalah ketersediaan air minum yang tidak boleh terlewat. ’’Lebih baik terlambat makan daripada telat minum,” imbuhnya.
Kebersihan kandang juga menjadi prioritas dengan melakukan pembersihan kandang dan peralatan makan tiga kali seminggu. Hal ini untuk memastikan kesehatan ayam dan kualitas telur yang dihasilkan tetap terjaga.
Salah satu faktor yang memudahkan perkembangan usaha peternakan ayam petelur di Kacangan adalah pemasaran. Narko mengungkapkan, bahwa pemasaran telur di desanya tidak terlalu sulit. Warga setempat yang banyak membuka usaha sembako menjadi konsumen utama.
’’Alhamdulillah, pemasaran cukup mudah karena tetangga dan warga desa banyak yang membuka warung sembako,” ujarnya. Menariknya, kualitas telur yang dihasilkan di Kacangan diakui oleh banyak konsumen lebih baik dibandingkan dengan telur dari Blitar, salah satu sentra peternakan terbesar di Jawa Timur.
’’Telur dari Blitar kebanyakan yang bagus dibawa ke Jakarta, jadi yang sampai ke sini sudah berumur dua sampai tiga minggu,” tambah Narko. Dengan populasi ayam yang terus meningkat, Narko mampu memanen sekitar tujuh hingga sembilan kilogram telur per hari.
Setelah memotong biaya operasional seperti pakan, perawatan kandang, dan lain-lain, keuntungan bersih yang diperoleh Narko berkisar antara Rp 40.000 per hari. Meskipun tidak besar, keuntungan ini cukup untuk menjaga stabilitas keuangan para peternak.
Namun, tantangan terbesar yang dihadapi oleh Narko dan anggota KPK adalah mahalnya harga pakan, khususnya jagung, konsentrat, dan bekatul. ’’Harga jagung sering naik, sedangkan harga jual telur tidak selalu mengikuti kenaikan tersebut. Kami harus memutar otak untuk mencari solusi,” ungkapnya.
Fluktuasi harga pakan menjadi hambatan yang sering dihadapi oleh peternak kecil. Sehingga, mereka berharap ada intervensi dari pemerintah untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Ke depan, Narko dan kelompoknya berharap agar pemerintah dapat memberikan dukungan lebih, baik dalam bentuk bantuan ayam, pakan, maupun pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan para peternak.
’’Kami berharap ada pihak-pihak dari pemerintah yang bisa mensupport peternak seperti kami, mulai dari bantuan ayam, pakan, pelatihan, atau yang lainnya,” harapnya. Dengan semangat pantang menyerah dan dukungan yang tepat, para peternak ayam petelur di Desa Kacangan optimistis dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi perekonomian lokal. (fra/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana