BLORA, Radar Bojonegoro - Petani jagung di Blora mengeluh. Lantaran saat masa panen tiba harga malah anjlok. Tercatat, saat ini harga jual jagung kering di petani hanya Rp 4.500 per kilogram. Sedangkan, jagung basah Rp 3.700 per kilogram.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Holtikultura, Perkebunan, dan Peternakan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora Rosalia Diah Erawati mengatakan, anjloknya harga jagung disebabkan karena pasokan yang melimpah.
Selain itu, juga ada pembatasan pakan unggas dari jagung. ’’Harga jagung anjlok ini karena pasokan jagung melimpah dari daerah penghasil jagung. Saat ini, panen raya, di Blora itu, di Kecamatan Jati, sebagian ada di Randublatung, dan hampir merata ya di setiap kecamatan,” ucap perempuan yang akrab disapa Era itu.
Tak tinggal diam, ia menjelaskan, tim dari Bupati telah menindaklanjuti terkait kondisi anjloknya harga jagung tersebut. ’’Dari pak bupati sudah menerjunkan timnya, yang dari swasta, calon investor untuk menghitung potensi jagung di Blora. Sehingga, potensi ini bisa ditampung semua oleh investor tersebut,” ujarnya.
Terkait jangka pendek, ia mengatakan mulai diakomodasi Bulog. ’’Sekarang ini Bulog diminta menyerap jagung di petani dengan harga Rp 5.000 per kilogram untuk jagung kering, dengan syarat kadar air 14 persen. Sehingga, petani bisa menjual hasil panennya ke Bulog,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Blora Arief Rohman akui prihatin dengan kondisi harga jagung di Blora. Padahal, menurutnya jagung merupakan komoditas favorit petani Blora. ’’Tahun lalu harganya tidak anjlok begini. Masih kami evaluasi dan selidiki. Apakah ada impor atau apa. Saya harap segera teratasi dan harganya normal lagi,’’ ujarnya. (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana