Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Musim Panen, Harga Gabah Bojonegoro Berangsur Turun Jadi Rp 6.000

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 25 Juli 2024 | 18:02 WIB

SORTIR PADI: Petani sedang menyortir gabah dari jerami. Harga gabah di musim panen Rp 6.000 per kilogram. Harga itu lebih rendah dibanding sebelumnya sekitar Rp 6.800 per kilogram.
SORTIR PADI: Petani sedang menyortir gabah dari jerami. Harga gabah di musim panen Rp 6.000 per kilogram. Harga itu lebih rendah dibanding sebelumnya sekitar Rp 6.800 per kilogram.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Memasuki panen raya, harga gabah tren turun menjadi Rp 6.000 per kilogram (kg). Petani menyayangkan dan mengeluh.

Sebab, akumulasi harga diterima masih dipotong sekitar Rp 60 ribu per kuintal untuk biaya operasional.

Sementara itu, stok beras Badan Urusan Logistik (Bulog) Bojonegoro sebanyak 6.480 ton. ‘’Ini baru mulai panen di daerah kami. Harga tren turun dibanding panen daerah selatan,” ujar Kasan petani asal Desa Semanding, Kecamatan Bojonegoro Kota Rabu (24/7).

Menurut dia, sebelumnya harga gabah di Kecamatan Dander dan Sukosewu mencapai Rp 6.700 per kg. Namun, kini harga Rp 6.000 per kg.

Dia mengeluh turunnya harga. Karena masih banyak biaya harus dibayarkan setelah panen.

Di antaranya untuk air pertanian sekitar 18 kg hingga potongan Rp 60 ribu per kuintal dari total gabah dipanen. ‘’Biaya operasionalnya lumayan. Kan membutuhkan tenaga juga. Pekerja juga butuh makan dan rokok,” keluhnya.

Sementara itu, Pemimpin Cabang Bulog Bojonegoro Ferdian Darma Atmaja menyampaikan, berdasar informasi dan analisis di lapangan rerata harga gabah di wilayah wewenangnya tidak sama.

Menurutnya, rerata harga gabah di Tuban dan Lamongan sekitar Rp 6.800 pe rkg dari petani. Sedangkan, Bojonegoro sekitar Rp 6.600 per kg.

Untuk stok beras Bojonegoro saat ini, lanjut dia, sebanyak 6.480 ton. Rinciannya public services obligation (PSO) atau serapan beras dari luar negeri (LN) sebanyak 3.365 ton dan dalam negeri (DN) sejumlah 1.635 ton. Serta, komersial sejumlah 1.480 ton. ‘’Paling banyak serapan dari Lamongan,” terangnya. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#sukosewu #Panen #Petani #Harga Turun #dander #bojonegoro