LAMONGAN, Radar Lamongan - Harga ecer tertinggi (HET) gula pasir di Pulau Jawa kini mencapai Rp 16 ribu per kilogram (kg). Kenaikan ini cukup signifikan, karena sebelumnya hanya Rp 12.500 per kg. Kenaikan ini dipengaruhi banyak hal, salah satunya biaya produksi petani yang tinggi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan, Moch. Wahyudi menuturkan, HET gula yang tinggi akan mempengaruhi harga beli tebu di petani. Karena apabila gula mahal, maka biasanya tebu petani juga dibeli dengan harga tinggi.
Misalnya tahun lalu, harga tebu antara Rp 67.500 - Rp 87.500 per kuintal. Harga ini relatif tinggi karena rendemen paling bawah masih dibeli oleh pabrik. ‘’Semoga kalau harga gula tinggi, maka bahan baku juga dibeli dengan harga sebanding, agar petani bisa merasakan untung,” harapnya.
Dia menjelaskan, tahun ini untuk luas tanam tebu 3.898 hektare (ha). Luasan ini masih sama dengan tahun lalu. Karena selama pandemi, ada penurunan luas tanam karena petani merugi.
Menurut dia, beberapa tahun lalu petani tidak tanam karena biaya produksi yang tinggi dan sewa lahannya naik. Namun, dua tahun ini petani tebu cukup stabil dan masih mempertahankan untuk tanam.
Wahyudi mengaku, petani tebu tetap mendapatkan jatah pupuk subsidi. Sehingga diharapkan petani tebu di Lamongan tetap semangat untuk tanam. Pertanian tebu banyak dijumpai di Kecamatan Sambeng, Kembangbahu, Ngimbang dan sekitarnya.
‘’Kalau tebu ini memang tidak bisa diganti-ganti dengan komoditi lain, karena untuk pengelolaan tanahnya sudah beda,” tukasnya. (rka/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana