Hasilnya diekspor ke luar negeri. ‘’Harga pasaran (kayu jati) lesu,” kata Kepala Desa (Kades) Geneng, Kecamatan Margomulyo Suharto senin (11/9).
Karena potensi kayu jati melimpah, Suharto mengatakan, sebagai besar masyarakat Desa Geneng berprofesi sebagai perajin kayu jati. Yakni, sekitar 50 persen dari jumlah total masyarakat. Bahkan, hingga terbentuk paguyuban perajin kayu dengan nama Tunggak Jati Aji.
Namun, disesalkan pasaran kayu jati saat ini tidak sebagus sebelumnya. Dampak dari Covid-19 hingga adanya perang Rusia-Ukraina yang belum berakhir. ‘’Karena kami ekspornya ke luar negeri. Seperti Korea dan Belgia,” jelas pria menjabat dua periode tersebut.
Kades Meduri, Kecamatan Margomulyo Hariyono menambahkan, bahwa ada lima perajin dari Desa Meduri gabung bersama perajin Desa Geneng. ‘’Untuk kerajinan kayu jati yang diolah itu limbahnya. Dari hasil panen kayu jati perhutani,” beber Sarko, sapaan akarabnya.
Sementara itu, Kades Kalangan, Kecamatan Margomulyo Kasmani mengatakan, rerata rumah masyarakat Kecamatan Margomulyo beserta furniturnya terbuat dari kayu jati. Karena sumber daya melimpah.
Sebagian masyarakat memiliki pekarangan menanam kayu jati di pinggir lahannya. ‘’Pemeliharaannya (kayu jati) mudah. Kalau di pinggir tegalan kami menyebutnya itu ditanami kayu jati. Ketika kami memupuk jagung otomatis akan terpupuk jatinya,” katanya.
Dia melanjutkan, harga kayu jati untuk membangun rumah relatif mahal. Lahan rumah 16 meter persegi dapat menghabiskan dana lebih dari Rp 250 juta.
Sedangkan, untuk furnitur atau perabotan seperti meja, kursi, dan lemari dibanderol Rp 2,5 juta hingga Rp 6 juta. ‘’Tergantung tipenya,” pungkasnya.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, pada 2019 Bojonegoro urutan ke-11 produsen kayu jati. Di mana produksi kayu jati pertukangan mencapai 8.458,93 kayu.
Dan, furnitur kayu menjadi ekspor komoditas utama nonmigas sektor industri urutan ke delapan dengan nilai free on board (FOB) atau harga barang mencapai 648,50 juta USD pada 2022. (yna/bgs)