LAMONGAN, Radar Lamongan - Harga gabah di tingkat petani di Lamongan mengalami kenaikan cukup signifikan. Meliputi gabah kering panen (GKP) tembus Rp 7.150 per kilogram (kg), serta gabah kering giling (GKG) kini mencapai Rp 7.300 per kg.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan, Moch. Wahyudi mengatakan, harga gabah di tingkat petani sudah tinggi. Sehingga sangat diuntungkan, khususnya petani bantaran sungai Bengawan Solo. Karena kualitas padinya juga bagus, yang membuat tengkulak berani membeli dengan harga tinggi.
‘’Alhamdulillah petani sangat senang, karena bisa merasakan keuntungan,” tutur Wahyudi saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Lamongan.
Berdasarkan pengamatannya, minggu lalu harga GKP masih Rp 6.500 per kg dan GKG Rp 6.700 per kg. Harga terus naik karena kualitas bagus dan tidak banyak yang panen.
Biasanya sesuai perhitungan musim tanam, hanya petani di wilayah bengawan yang bisa tanam padi untuk periode Agustus. Sebab didukung ketersediaan air yang cukup. Sementara untuk petani sawah tadah hujan biasanya masuk palawija dan tembakau.
‘’Panen bulan ini luasannya sekitar 14 ribu hektare dengan rerata provitasnya 7,41,’’ ujarnnya.
Wahyudi menuturkan, harga gabah musim ini sangat tinggi. Bahkan dari penuturan beberapa petani, belum pernah tembus Rp 7 ribu. Sehingga ini merupakan keberuntungan bagi para petani, karena bisa meraup hasil yang lebih.
Namun, untuk harga beras juga tinggi. Saat ini, beras medium harganya Rp 12.500 per kg, sedangkan paling murah Rp 10 ribu per kg. Selama bulan ini, harga beras mengalami kenaikan hingga 4,5 persen untuk jenis beras murah, dari Rp 9.540 menjadi Rp 10 ribu.
Karena itu, untuk stabilisasi harga, pihaknya akan berkoordinasi dengan bulog dan memastikan ketersediaan beras untuk masyarakat. ‘’Harga beras tinggi karena jumlah yang panen tidak banyak, tapi petani Lamongan yang tidak panen biasanya masih memiliki cadangan beras hingga musim berikutnya,” terangnya. (rka/ind)
Editor : M. Yusuf Purwanto