RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kondisi hutan di Bojonegoro cukup mengkhawatirkan. Tutupan lahan sangat minim, terlihat gundul. Warga setempat menyebut parahnya kondisi hutan terjadi sejak adanya program perhutanan sosial (PS) dalam kawasan hutan dengan pengelolaan khusus (KHDPK) sekitar 2018-2019.
Agus Rian warga Desa Krondonan, Kecamatan Gondang mengatakan, kehidupan masyarakat wilayah Bojonegoro selatan bergantung hampir 90 persen dari hutan.
Mirisnya kondisi hutan saat ini mengkhawatirkan, banyak kawasan gundul. "Seharusnya sekarang harus mengubah pola bila hutan masih ditanami tanaman produksi tebang, maka akan sulit hidup, karena bertolak belakang dengan tanaman pangan yang mereka (masyarakat, red) tanam," katanya kepda Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Menurut dia, lahan tidak harus ditanami dengan tanaman produksi tebang, melainkan bisa dialihkan dengan tanaman buah-buahan yang diatur jaraknya agar menjadi lahan tumpang sari produktif.
Baca Juga: Hutan di Bojonegoro Wilayah Selatan Gundul, Kemarau Diprediksi hingga November
"Sebagai pengganti tanaman tebang, ke depan harapannya mampu mengatasi krisis ekologi dan mengangkat ekonomi warga tetapi hutan tetap terjaga," imbunya.
Saat ini, kata dia, belum terlihat geliat dan menyebabkan kondisi hutan semakin parah. Namun, dengan kondisi saat ini tak ada yang perlu disalahkan. Ini menjadi catatan dan evaluasi pemerintah pusat merevisi undang-undang dan peraturan lain berkaitan dengan kawasan hutan.
"Negara harus hadir memberikan regulasi khusus penataan kawasan hutan dengan melibatkan semua stakeholder sampai tingkat desa. Dengan banyaknya aturan PS yang tidak ada pengawalan atau pendampingan bagaimana mengelola kawasan dengan memerhatikan vegetasi pohon sebagai penyangga," bebernya.
Sehingga, kata Agus, kurang dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang PS. Sebab, sebagian besar masyarakat menganggap seperti hak milik, padahal hak guna. Membangun kesadaran bersama juga penting dalam menjaga ekologi.
"Kejadian ini (hutan gundul, red) sudah berawal mulai 1999 maraknya penebangan yang sempat parah, namun saat 2006 upaya rehabilitasi hutan hampir berhasil. Parahnya sejak program PS ada kisaran 2018/2019," kenangnya
Sementara itu, pihak Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Bojonegoro belum bisa dikonfirmasi terkait peran PS terhadap kondisi hutan saat ini. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah