RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, menyimpan jejak sejarah yang tidak banyak diketahui masyarakat. Kawasan ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dan berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan di tepi Sungai Bengawan Solo.
Hingga kini, sejumlah bangunan tua masih berdiri di kawasan Padangan. Arsitekturnya menjadi saksi perjalanan panjang wilayah tersebut, mulai dari masa pemerintahan lama hingga era kolonial Belanda.
Dikutip dari penelitian Muhammad Eko Subagtio berjudul Kota Tua Padangan sebagai Saksi Berakhirnya Kadipaten Jipang dan Berdirinya Kabupaten Bojonegoro, Padangan memiliki nilai sejarah penting dalam proses pembentukan Kabupaten Bojonegoro.
Baca Juga: Padangan Heritage: Bangunan Sejarah yang Siap Menjadi Ikon Wisata dan Literasi Bojonegoro
1. Pernah Menjadi Pusat Pemerintahan Kadipaten Jipang
Sejarah Padangan berkaitan erat dengan perjalanan pemerintahan Jipang. Pada 20 Oktober 1677, Jipang ditetapkan sebagai kabupaten dalam konteks perjanjian antara Mataram dan VOC. Pusat pemerintahannya berada di Padangan, yang memiliki posisi strategis di tepi Bengawan Solo.
Lokasi tersebut mendukung aktivitas pemerintahan sekaligus perdagangan. Sungai Bengawan Solo pada masa itu menjadi jalur transportasi penting untuk pergerakan manusia dan barang.
Namun, kedudukan Padangan sebagai pusat pemerintahan tidak berlangsung selamanya. Pada 1725, pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dipindahkan ke Rajekwesi, yang kemudian menjadi bagian dari sejarah perkembangan Bojonegoro.
Meski kehilangan peran sebagai pusat pemerintahan, Padangan tetap berkembang sebagai kawasan perdagangan dan permukiman.
2. Bangunan Tua Kantor Polsek Padangan
Salah satu jejak masa lalu yang masih dapat dilihat adalah bangunan yang kini digunakan sebagai Kantor Polsek Padangan.
Menurut pemberitaan resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada 16 Februari 2026, bangunan tersebut memiliki arsitektur kolonial dengan ciri berupa dinding tebal, pilar kokoh, jendela besar, dan langit-langit tinggi.
Bangunan ini juga memiliki riwayat fungsi yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi pada masa lalu. Sebelum digunakan sebagai kantor kepolisian, bangunan tersebut pernah difungsikan sebagai kantor tembakau dan pabrik kapur.
Keberadaannya memperlihatkan bahwa kawasan Padangan dahulu memiliki hubungan erat dengan kegiatan perdagangan dan industri.
3. Padangan Heritage, Rumah Tua yang Menyimpan Cerita
Jejak sejarah lainnya dapat ditemukan di Padangan Heritage, Local History & Museum. Tempat ini berkaitan dengan rumah tua yang sebelumnya dikenal sebagai rumah Haji Ali Rasyad.
Keberadaan bangunan tersebut penting dalam upaya mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat. Rumah tua itu juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya peringkat kabupaten melalui Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor 188/1/KEP/412.11/2023.
Di sekitar bangunan bersejarah tersebut terdapat cerita mengenai tujuh sumur yang dahulu dikenal masyarakat setempat. Menurut penuturan penjaga Padangan Heritage yang dikutip dalam pemberitaan Pemkab Bojonegoro, air sumur-sumur itu pernah digunakan untuk keperluan sehari-hari dan tradisi ruwatan.
Cerita tersebut menjadi bagian dari memori masyarakat yang melekat pada kawasan bersejarah Padangan.
Baca Juga: Kenapa Padangan Pernah Jadi Pusat Pemerintahan Bojonegoro? Ini Sejarah dan Alasannya
4. Jejak Kawasan Pecinan dan Pertokoan Lama
Selain bangunan pemerintahan, kawasan kota lama Padangan juga menyimpan jejak aktivitas perdagangan dan permukiman.
Penelitian Muhammad Eko Subagtio mencatat keberadaan kompleks Pecinan, rumah-rumah berarsitektur kolonial, serta bangunan pertokoan lama. Sebagian bangunan tersebut masih digunakan, sementara lainnya mengalami penurunan fungsi.
Model pertokoan lama yang menggabungkan tempat berdagang di bagian bawah dan hunian di bagian atas menjadi salah satu gambaran kehidupan ekonomi perkotaan pada masa lalu.
Keberadaan bangunan-bangunan ini memperlihatkan bahwa Padangan bukan sekadar kawasan persinggahan, melainkan juga pernah menjadi tempat bertemunya berbagai aktivitas ekonomi dan sosial.
5. Mengapa Jejak Kota Lama Padangan Penting Dilestarikan?
Bangunan tua di Padangan memiliki nilai lebih dari sekadar bentuk arsitektur. Peninggalan tersebut membantu masyarakat memahami perkembangan pemerintahan, perdagangan, dan kehidupan sosial di Bojonegoro.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia pada 2022 juga menyoroti potensi situs Kota Tua Padangan sebagai sarana pembelajaran sejarah kontekstual.
Dengan mengenalkan sejarah melalui bangunan yang masih bisa dijumpai, generasi muda dapat mempelajari masa lalu dari lingkungan di sekitarnya.
Pelestarian kawasan ini membutuhkan perhatian bersama, baik melalui dokumentasi sejarah, perawatan bangunan, maupun pengenalan kepada masyarakat. Informasi yang akurat juga penting agar kisah yang beredar dapat dibedakan dari fakta sejarah yang didukung penelitian.
Baca Juga: Bojonegoro Berawal dari Jipang
Kota Lama Padangan menjadi pengingat bahwa sejarah Bojonegoro tidak hanya tersimpan dalam buku atau arsip. Sebagian jejaknya masih berdiri di tengah kehidupan masyarakat, menunggu untuk dikenali dan dirawat agar tidak hilang ditelan zaman. (*)
Sumber Referensi
-
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, “Melihat Masa Lalu dari Arsitektur Kantor Polsek Padangan-Bojonegoro, Bangunan Era Kolonial Belanda”, 16 Februari 2026.
https://bojonegorokab.go.id/berita/9337/melihat-masa-lalu-dari-arsitektur-kantor-polsek-padangan-bojonegoro-bangunan-era-kolonial-belanda -
JDIH Kabupaten Bojonegoro, Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor 188/1/KEP/412.11/2023 tentang Penetapan Rumah Tua Padangan Eks Rumah Haji Ali Rasyad (Padangan Heritage) sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Kabupaten.
https://jdih.bojonegorokab.go.id/produk-hukum/detail/520 -
Muhammad Eko Subagtio, “Kota Tua Padangan sebagai Saksi Berakhirnya Kadipaten Jipang dan Berdirinya Kabupaten Bojonegoro”, Kota Tua Punya Banyak Cerita, 2020.
https://www.researchgate.net/publication/347342404_KOTA_TUA_PADANGAN_SEBAGAI_SAKSI_BERAKHIRNYA_KADIPATEN_JIPANG_DAN_BERDIRINYA_KABUPATEN_BOJONEGORO -
Muhammad Eko Subagtio, “Pemanfaatan Situs Kota Tua Padangan Kabupaten Bojonegoro sebagai Objek Pembelajaran Kontekstual Berbasis Digital History”, Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia, 2022.
https://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/26991