Bojonegoro Makin Terik, Suhu Capai 37 Derajat

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 07:20 WIB
Gapura Selamat Datang Bojonegoro( FARHAN REZA ARDIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
Gapura Selamat Datang Bojonegoro( FARHAN REZA ARDIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Terik matahari terasa menyengat di sejumlah wilayah Bojonegoro dalam sepekan terakhir. Suhu pada siang hari mencapai 36–37 derajat Celsius. Kondisi tersebut membuat masyarakat mengeluhkan cuaca yang terasa lebih panas dibandingkan biasanya.

“Sangat panas. Suhu sering di atas 35 derajat Celsius,” keluh Islahudi, warga Kecamatan Ngraho, kemarin (7/10).

Dia mengatakan, beberapa hari lalu sempat terdengar petir di wilayahnya. Namun, hujan tak kunjung turun. Menurut dia, kondisi cuaca di Bojonegoro dari tahun ke tahun terasa semakin panas. Terlebih, saat ini kemarau berlangsung cukup ekstrem.

“Faktor hutan banyak yang gundul dan pengeboran minyak juga sepertinya,” lanjutnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Agus Susetyo Hardiyanto menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang membuat suhu di kabupaten ujung barat Jawa Timur (Jatim) tersebut relatif tinggi. Salah satunya pengaruh fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering.

“Tahun ini kemarau lebih panjang dan kering akibat El Nino, sebagaimana diprakirakan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Pembentukan awan hujan berkurang, langit cerah, dan sinar matahari langsung memanaskan permukaan,” ujar Agus yang akrab disapa Antok itu.

Baca Juga: Bojonegoro Masih Panas hingga Oktober, Kapan Hujan Mulai Turun?

Selain faktor cuaca, dia menilai menurunnya daya dukung lingkungan akibat berkurangnya tutupan hutan turut berpengaruh. Vegetasi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan suhu melalui proses penguapan dan pemberian naungan.

“Berkurangnya tutupan hutan membuat pendinginan alami dari penguapan tanaman dan peneduh ikut menurun. Lahan terbuka dan permukaan keras menyerap serta menyimpan panas lebih banyak sehingga suhu pada siang hari terasa lebih tinggi,” jelasnya.

Data pengukuran DLH selama September menunjukkan suhu cukup tinggi di sejumlah titik. Di Kantor DLH Bojonegoro, suhu rata-rata tercatat 34,36 derajat Celsius dengan kelembapan 49,41 persen. Adapun suhu tertinggi mencapai 36,1 derajat Celsius. Sementara itu, di Terminal Rajekwesi, suhu rata-rata mencapai 34,11 derajat Celsius dengan kelembapan 50,14 persen. Suhu tertinggi tercatat 35,5 derajat Celsius. Pengukuran dilakukan pada siang hari sekitar pukul 11.00 dan 13.00 WIB.

Berdasarkan prakiraan BMKG, dalam sepekan terakhir rata-rata suhu di Bojonegoro berada pada kisaran 36–37 derajat Celsius. Kondisi tersebut menempatkan Bojonegoro sebagai salah satu daerah dengan suhu tertinggi di Jatim, setelah Lamongan. (yna/zim)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Dinas Lingkungan Hidup el nino bojonegoro DLH Bojonegoro BMKG