Warga Sraturejo Baureno Lestarikan Situs Botobang

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 08:00 WIB
GOTONG ROYONG: Warga Dusun Ngrakas, Desa Straturejo, Kecamatan Baureno gotong -royong menjaga Situs Botobang, diyakini  sebagai petilasan Ratu Dewi Setyowati dan Prabu Jenggolo Manik. (INDRA MAULANA FOR RADAR BOJONEGORO)
GOTONG ROYONG: Warga Dusun Ngrakas, Desa Straturejo, Kecamatan Baureno gotong -royong menjaga Situs Botobang, diyakini  sebagai petilasan Ratu Dewi Setyowati dan Prabu Jenggolo Manik. (INDRA MAULANA FOR RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Warga Dusun Ngrakas, Desa Straturejo, Kecamatan Baureno masih menjaga Situs Botobang sebagai petilasan yang diyakini berkaitan dengan Ratu Dewi Setyowati dan Prabu Jenggolo Manik.

Boto Abang atau sering disebut Botobang merupakan salah satu petilasan di dusun Ngrakas, Desa Straturejo, Kecamatan Baureno. Situs ini diyakini masyarakat sekitar merupakan tempat suci yakni berhubungan langsung dengan Ratu Dewi Setyowati dan Eyang Jenggolo Manik atau Prabu Sri Begawan Manik Sutro.

Dewi Setyowati sendiri merupakan permaisuri dari Prabu Angling Dharma. Sedangkan Jenggolo Manik merupakan guru sekaligus ayah dari Dewi Setyowati.

Mudjoko, juru kunci Botobang menjelaskan, meski di bangunan terdapat tulisan pesarean (makam) sebenarnya situs tersebut merupakan petilasan.

Tujuannya memudahkan masyarakat menghormati tempat bersejarah tersebut. Bangunan situs ini merupakan renovasi hasil gotong-royong warga dusun sebagai upaya merawat sejarah.

“Dulu kan ada istilahnya jejak berupa bangunan (kotak) nah terus dilestarikan oleh warga,” jelas pria 55 tahun tersebut

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro pun belum menindaklanjuti terkait situs sejarah ini. Daffa Mileniar, staf Disbudpar Bojonegoro bidang kebudayaan mengaku untuk situs-situs yang belum terbukti valid secara ilmiah belum diberikan perhatian lebih lanjut.

Dinas akan melakukan penelitian lebih lanjut apabila batu-bata yang ada terbukti merupakan peninggalan zaman kerajaan majapahit, juga akan memberikan dukungan pengelolaan dan pemeliharaannya apabila terbukti.

“Kalau semisal itu zaman majapahit, pihak dinas bisa bantu support pengelolaannya terus pemeliharannya,kata Daffa.

Pria yang akrab disapa Joko tersebut bercerita, mengapa disebut Boto Abang atau Botobang adalah karena zaman dahulu petilasan ini sempat dibongkar oleh Penjajah.

Ketika dibongkar, ternyata di dalamnya ada banyak batubata berwarna merah, maka disebutlah botobang. Lain pendapat dengan Mas Joko, Agung Yatmoko yang merupakan seorang Pegiat Budaya berpendapat bahwa mungkin dahulu yang membongkar adalah pihak Belanda dikarenakan Jepang cenderung tidak terlalu peduli dengan hal seperti itu.

“Jepang itu mengutamakan perampasan, kalau belanda kan memang ada iktikad untuk merestorasi, mengeskavasi situs-situs di tanah jajahan.” Tutur pria yang akrab disapa Mas Koko tersebut.

Kini, batu bata yang tersisa hanya tinggal beberapa sebab banyak yang dijarah.

Joko mengaku, dulu sebenarnya situs Botobang juga disebut boto sewu dikarenakan banyaknya batu bata berwarna merah yang ditemukan. Ukuran batu bata sendiri kira-kira berukuran sekitar 40x20 cm dengan ketebalan mencapai 10 cm.

Joko mengaku bahwa dari organisasi kebudayaan, penghayat, dan seniman yang berasal dari berbagai daerah pernah mengunjungi Botobang, beberapa di antaranya berasal dari Banyuwangi dan Jember. Selain dirawat sebagai salah satu peninggalan sejarah, masyarakat dusun Ngrakas rutin melaksanakan kegiatan sedekah bumi di situs ini setiap Minggu Wage.

Hingga kini, warga Dusun Ngrakas tetap menjaga Botobang sembari menanti penelitian lebih lanjut agar situs tersebut memperoleh pengakuan dan pelestarian yang memadai. (im/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Kecamatan Baureno situs Botobang Prabu Angling Dharma Botobang