Wabup Bojonegoro Tegaskan Penyembelihan di RPH

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:35 WIB
TUTUP: Kios daging sapi di Jalan 
Jaksa Agung Suprapto tutup, karena suplai daging kosong. (YANA DWI KURNIYAWATI/RADAR BOJONEGORO)
TUTUP: Kios daging sapi di Jalan Jaksa Agung Suprapto tutup, karena suplai daging kosong. (YANA DWI KURNIYAWATI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemerintah kabupaten (pemkab) menggelar audiensi dengan penjagal hingga supplier sapi siap potong kemarin (20/8). Menyusul penutupan lapak-lapak pedagang sapi di sejumlah pasar tradisional. 

Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah mengatakan, audiensi digelar bersama pedagang, penjagal, hingga supplier. "Intinya, satu, meninjau dari apa yang jadi masalah. Yakni, ada banyak penjagal yang saat ini tidak menyembelih di RPH (rumah potong hewan)," kata perempuan akrab dipanggil Nurul itu. 

Baca Juga: APBD Bojonegoro Tahun 2027 Diproyeksikan Rp 5,28 Triliun

Kedua, lanjut dia, RPH akan menyembelih sesuai ketentuan berlaku. Misal tidak boleh ada gelonggongan. Kemudian, terkait harga di pasaran, menurutnya, harga daging sapi saat ini Rp 125 ribu per kilogram (kg). Sedangkan, harga acuan pasar (HAP) Rp 140 ribu per kg. 

"Sesuai ketentuan antara supplier dan pedagang harga daging sapi jadi Rp 140 ribu per kg dengan catatan harus sesuai ketentuan berlaku," katanya. 

Baca Juga: Gen Z Sumbang 696 Perkara Perceraian di Bojonegoro

Dia menegaskan, penjagal atau yang menyembelih sapi harus di RPH. Agar sesuai klasifikasi dan syarat-syarat. "Harapannya tidak ada yang melanggar. Kalau tidak di RPH tidak tahu klasifikasi atau syarat-syaratya. Dari audiensi sepakat dilakukan penyembelihan di RPH," tandasnya. 

Sementara itu, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, pada 2024 populasi sapi siap potong di Bojonegoro tercatat 240.519 ekor. Pada 2025 mengalami kenaikan sesuai jumlah sementara, yakni 244.225 ekor. (yna/msu)

Editor : Hakam Alghivari
Wabup Bojonegoro Nurul Azizah Sapi pemotongan rph