RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sekitar 13.045 pohon yang telah ditanam sejak Januari hingga 30 Juni lalu, butuh perhatian perawatan. Jangan sampai kering karena tidak mendapatkan perawatan dari instansi terkait.
"Sesuai dengan data kami, per 30 Juni 2026 jumlah tanaman yang ditanam yaitu 13.045 batang," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah.
Berdasar Satu Data Bojonegoro, penanaman pohon pada 2022 sebanyak 167.381 pohon; menurun drastis menjadi 19.034 pohon ditanam di 2023; kembali mengalami penurunan menjadi 7.476 pohon ditanam pada 2024; meningkat sebanyak 23.410 pohon ditanam di 2025.
Baca Juga: Protes Kreatif: Mengapa Aksi Tanam Pohon Sering Dipilih untuk Menyindir Jalan Rusak?
Sementara itu, Divisi Database dan Knowladge World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jawa Timur, Endang Priyantini, dampak krisis iklim kini semakin dirasakan masyarakat, mulai cuaca ekstrem, kerusakan lingkungan, hingga kekeringan.
"Dampak cuaca ekstrim juga beresiko menghambat target pengentasan kemiskinan, penyediaan air bersih, hingga pertumbuhan ekonomi yang terhambat," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih konkret melalui kebijakan yang mendukung pengendalian perubahan iklim. Diantaranya, menyusun regulasi terkait pengendalian emisi karbon atau kebijakan pajak karbon; Memperbesar investasi hijau melalui pembangunan infrastruktur ramah lingkungan; dan upaya konservasi lingkungan melalui restorasi lahan kritis, reboisasi kawasan hutan gundul, serta perlindungan ekosistem juga perlu dilakukan sebagai bagian dari penguatan ketahanan iklim.
Baca Juga: DLH Bojonegoro Belum Tentukan Target Penanaman Pohon untuk 2026
Di sisi lain, penanganan krisis iklim juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Mulai dari menanam pohon, menghemat energi, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, hingga memilah sampah agar dapat mendukung ekonomi sirkular.
"Menjaga bumi harus menjadi kepentingan bersama, bukan sekadar kepentingan sektoral," pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Hakam Alghivari