RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Dahulu harum namanya sebagai “gudang kayu jati terbaik di Jawa”, kini Bojonegoro lebih ramai dibicarakan karena ladang minyak dan gas bumi. Pergeseran identitas ini memunculkan kekhawatiran: apakah kejayaan industri kayu jati dan kerajinan lokal akan terkubur di balik kilau dolar migas?
Sejarah Bojonegoro sebagai daerah penghasil kayu jati bukan isapan jempol. Kabupaten ini memiliki sebagian besar wilayahnya yang masuk dalam kawasan hutan jati, terutama di bagian selatan dan barat. Berdasarkan data Perhutani KPH Bojonegoro, luas hutan di wilayah ini mencapai lebih dari 43 ribu hektare, dengan mayoritas ditanami jati. Kondisi tanah dan iklim Bojonegoro—curah hujan moderat dan tekstur tanah liat berpasir—menjadi faktor penting yang membuat jati Bojonegoro terkenal memiliki serat halus, warna cokelat keemasan, dan daya tahan puluhan tahun.
Dari desa-desa seperti Margomulyo, Batokan, hingga Margoagung, ribuan kubik kayu diolah menjadi mebel, kerangka rumah, hingga ukiran bernilai seni tinggi. Puluhan tahun lalu, kayu jati Bojonegoro adalah komoditas yang membawa perajin lokal menembus pasar Yogyakarta, Jakarta, hingga Bali. Produk seperti meja makan, lemari ukir, kusen pintu, dan kerajinan tangan dari akar jati menjadi buruan kolektor.
Namun, situasi berubah. Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian mencatat jumlah pengrajin kayu yang aktif terus menurun. Pada 2015, tercatat lebih dari 500 pengrajin terdata. Per 2024, jumlahnya menyusut hampir separuhnya. Penyebabnya bervariasi: keterbatasan pasokan bahan baku karena regulasi tebang, persaingan dari material sintetis, hingga minimnya regenerasi perajin muda.
Sementara itu, sektor migas menggeliat dengan angka fantastis. Hingga triwulan II 2025, Dana Bagi Hasil Migas untuk Bojonegoro mencapai ratusan miliar rupiah, menjadi penyumbang terbesar pendapatan daerah. Ekonomi memang bergerak, tetapi mayoritas dana mengalir untuk proyek infrastruktur dan kebutuhan birokrasi. Industri kerajinan—yang bersifat padat karya—tidak mendapat perhatian sebesar yang diharapkan.
“Kalau semua hanya bicara migas, anak-anak muda enggan belajar memahat atau membubut kayu. Padahal ini warisan yang membesarkan Bojonegoro jauh sebelum sumur minyak dibor,” ujar seorang Suparman, perajin asal Kecamatan Kasiman, yang kini mengandalkan pesanan eceran lewat media sosial untuk bertahan.
Krisis identitas ekonomi ini makin terasa ketika Bojonegoro mulai kehilangan pamor di pameran kerajinan tingkat provinsi. Produk mebel dan ukir dari daerah lain—seperti Jepara atau Blora—lebih mendominasi, sementara stan Bojonegoro kerap sepi pengunjung.
Padahal, jika dikelola dengan konsep sustainable forestry (pengelolaan hutan lestari), sumber daya kayu jati Bojonegoro bisa menjadi pilar ekonomi masa depan yang lebih aman daripada migas. Minyak dan gas memiliki umur terbatas; sementara hutan jati yang dikelola secara lestari akan terus memberikan hasil kayu, menyerap tenaga kerja, sekaligus menjaga ekosistem.
Realitas kini, di tengah kemewahan kemajuan migas, masih ada desa-desa penghasil jati yang belum tersentuh akses pasar digital dan pelatihan desain modern. Banyak perajin yang masih mengandalkan metode penjualan tradisional dari mulut ke mulut. Tanpa intervensi serius, mereka akan tertinggal dan warisan jati Bojonegoro hanya menjadi catatan sejarah.
Bojonegoro kini berada di persimpangan. Pemerintah daerah ditantang untuk membuktikan bahwa migas bukan alasan melupakan akar identitasnya. Dana besar dari sektor energi semestinya menjadi modal untuk menghidupkan kembali kejayaan kayu jati—dengan strategi pembinaan perajin muda, fasilitasi akses pasar online, serta program sertifikasi produk agar bisa bersaing di pasar global.
Kalau langkah ini diambil, Bojonegoro bisa menatap masa depan dengan dua kaki: satu di sektor migas yang menopang pendapatan saat ini, dan satu lagi di sektor kayu jati yang berkelanjutan untuk generasi berikutnya. Sebaliknya, jika terlena pada migas saja, daerah ini berisiko menjadi contoh klasik wilayah yang kehilangan identitas karena terlalu bergantung pada sumber daya alam yang habis dipakai.
Masa depan Bojonegoro akan sangat ditentukan oleh pilihan hari ini: menghidupkan kembali ekonomi kayu jati yang lestari, atau membiarkannya meredup di bawah bayang-bayang kilang minyak. (feb)
Editor : Hakam Alghivari