RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kemarau basah yang terjadi pada tahun ini, membuat permintaan air bersih hingga Juni masih nihil. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro memprediksi, permintaan air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan pun tak sebesar tahun lalu.
"Belum ada desa yang mengajukan permintaan air bersih," ungkap Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi kemarin (14/6).
Menurutnya, sebagian wilayah Bojonegoro saat ini juga masih diguyur hujan, sehingga belum ada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Pandangan Heru, dampak kekeringan menurun juga disebabkan karena adanya fenomena kemarau basah. Dijelaskan, puncak kemarau di Bojonegoro diprediksi bakal terjadi September dan November mendatang.
"Harapannya tidak ada warga terdampak kekeringan seperti tahun lalu," imbuhnya.
Sementara itu, pada Juni tahun lalu, terdapat dua desa yang mengajukan permintaan air bersih, yakni Desa Nglumber dan Bumirejo di Kecamatan Kepohbaru.
Terpisah, Kepala Dusun (Kasun) Nglumber Kecamatan Kepohbaru Achmad Zaenuri mengungkapkan, bahwa hingga kini belum ada warga yang terdampak kekeringan, meski sebelumnya menjadi langganan.
Menurutnya, hal itu karena dampak hujan yang masih kerap turun. "Belum ada permintaan air bersih, karena masih sering hujan," ungkapnya.
Berdasar data dihimpun, kekeringan pada 2021 lalu terdampak pada 17 desa di 8 kecamatan, kemudian pada 2022 berdampak pada 19 desa di 8 kecamatan. Kekeringan, melonjak drastis pada 2023 yakni 118 desa dan 24 kecamatan. Kemudian, pada 2024 jumlah desa yang terdampak menurun 92 desa di 24 kecamatan. (dan/edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana