Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Fenomena Tren #KaburAjaDulu, Jumlah Pekerja Migran Bojonegoro Menurun

Hakam Alghivari • Senin, 24 Februari 2025 | 20:30 WIB
Ilustrasi dan grafis jumlah pekerja migran Bojonegoro dari tahun ke tahun.
Ilustrasi dan grafis jumlah pekerja migran Bojonegoro dari tahun ke tahun.

DATA sementara jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) alami penurunan sejak 2022. Rinciannya, pada 2022 sebanyak 799 pekerja, pada 2023 sejumlah 532 PMI, dan 2024 sejumlah 431 PMI.

Kepala Seksi (Kasi) Penempatan Kerja, Perluasan Kerja, dan Transmigrasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro Agoestin Faridijani menjelaskan, penyebab utama penurunan jumlah PMI belum diketahui secara pasti.

Namun, dorongan utama warga menjadi PMI tentu didomonasi keinginan untuk menaikkan status sosial dengan memperbaiki kondisi finansial. Berdasar 2024, negara tujuan meliputi Singapura, Hongkong, Malaysia, Saudi Arabia, Brunei Darussalam, Taiwan, Turki, Korea Selatan, Papuan New Guinea atau Papua Nugini, Polandia, Italia, Qatar, hingga Dominika.

PMI terbanyak berdasar data per 18 Desember berasal dari Kecamatan Kedungadem dan Dander.  Ida mengaku, untuk jumlah PMI tahun ini belum bisa diprediksi. Sebab, baru berjalan dua bulan. ’’Di 2024 turun dibanding 2023. Kalau dua bulan ini belum bisa ambil kesimpulan untuk prediksi sepuluh bulan ke depan,” terangnya.

Terpisah, Ika Pratiwi Calon Pekerja Migran (PMI) asal Kecamatan Kapas memiliki niat bekerja ke luar negeri tidak lepas dari dorongan ekonomi alias gaji. Sebab, menurutnya, banyak lowongan di luar negeri tidak seperti di Indonesia terutama Bojonegoro.

Perbandingan gaji untuk pendidikan terakhir pun dinilai sangat berbeda. Di Indonesia, ujar dia, untuk mendapat gaji Rp 4 juta minimal syarat lulus S-1, S-2, hingga S-3. Sedangkan, di luar negeri ijazah minimal sekolah menengah pertama (SMP) bisa menerima Rp 30 juta setiap bulannya. Menurutnya, ini tidak lepas dari kebijakan yang dibuat pemerintah.

Terlebih akhir-akhir ini yang dirasa serampangan. ’’Di luar negeri, lowongan banyak asal lulus tes bahasa. Ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah. Kalau besok tujuan saya ke Korea Selatan. Sekarang, masih mengikuti kelas,” tambahnya.

Hal serupa dikatakan Prabiyoga pria asal Kecamatan Sumberrejo. Dia mengatakan, pernah bekerja di Malaysia. Kini tengah persiapan dan menunggu panggilan untuk ke Korea Selatan. Keputusannya merantau jauh itu tidak lepas dari pertimbangan gaji lebih besar. ’’Gaji lebih gede (besar). Lebih enak ke luar negeri, gaji sebanding dengan kerjaan,” ujarnya. (yna/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#data #pekerja migran #turun #bojonegoro #Kabur aja dulu