’’BOJONEGORO ini kan hampir 12 kecamatan dilewati sungai Bengawan Solo. Tentu cukup bahaya ketika musim hujan,” kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Bojonegoro Sukur Priyanto kemarin (26/1).
Sukur melanjutkan, bahaya saat musim hujan menyebabkan tidak jarang terjadi laka air. Sehingga, harus diantisipasi instansi terkait di antaranya badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan dinas perhubungan (dishub).
Yakni, dengan memastikan daerah tanpa jembatan atau tempat penyeberangan perahu aman. ’’Memastikan perahu penyeberangan memiliki alat keselamatan,” tegasnya. Seperti ban karet, jaket pelampung, helm untuk menghindari benturan, hingga peluit dan senter darurat.
Kemudian, lanjut dia, pemkab melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga harus masif melakukan sosialisasi kepada masyarakat pentingnya keselamatan di area penyeberangan atau saat debit air sungai naik.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro Andik Sudjarwo mengatakan, untuk meminimalisasi laka air terdapat beberapa upaya dilakukan. Seperti pengawasan perahu dan operator penyeberangan. Pengawasan dilakukan secara berkala.
’’Ditambah intensitasnya saat terjadi kenaikan tinggi muka air (TMA) Bengawan Solo,” jelasnya. Selain itu, Dishub juga melakukan imbauan penggunaan alat keselamatan. Terlebih pembagian jaket keselamatan pada usaha jasa penyeberangan Bengawan Solo telah dilakukan. ’’Jaket keselamatan sudah kami bagikan,” ujarnya. (yna/irv/bgs)
Editor : Hakam Alghivari