BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan ternak di Bojonegoro memaksa dinas terkait menggenjot vaknisasi.
Namun, sebanyak 7.050 dosis vaksin yang telah diterima Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, masih belum menjangkau seluruh kebutuhan ternak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Peternakan Disnakan Lutfi Nurahman menyampaikan, telah menerima 7.050 dosis vaksin.
Namun, dosis tersebut belum bisa menjangkau seluruh hewan ternak di Bojonegoro. ‘’’Belum ada tambahan kuota,” imbuhnya.
Menurutnya, vaksin tersebut diterima dari dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) melalui Dinas Peternakan Provinsi Jatim. Namun, belum ada rencana penambahan dosisnya. ‘’Kita masih menunggu, dari pemerintah pusat dan provinsi,” imbuhnya kemarin (21/1).
Untuk sementara, disnakkan melakukan penyemprotan disinfektan, penutupan pasar hewan, dan penyekatan pada wilayah perbatas. ‘’Dilakukan penyekatan di Kecamatan Gondang, Baureno dan Trucuk,” imbuhnya.
Berdasarkan data BPS Jawa Timur, populasi sapi potong di Bojonegoro mencapai 274.128 ekor pada 2023 lalu, dan menjadi urutan keempat se-Jawa Timur.
Angka tersebut selalu mengalami peningkatan setiap tahun, sejak 2018 lalu.
Sementara itu, sejumlah peternak sapi di Bojonegoro telah menerima bantuan vaksin, meski memang diketahui belum merata di seluruh wilayah terdampak.
‘’Belum semua untuk Tambakrejo, baru KTT (Kelompok Tani Ternak) Ustan Mandiri Dolokgede,” ungkap Ketua KTT Ustan Mandiri Muhamad Ali kemarin (21/1).
Terpisah, Pengelola Kesehatan Hewan dan Kesmavet Kecamatan Ngasem Sumaryanto menyampaikan, saat ini telah ada 25 sapi di wilayahnya yang telah menerima vaksin dari total 500 kuota.
Namun, memang terbatas. ‘’Untuk kuota kalau yang suspek malah tidak boleh, untuk sapi yang sehat. Soalnya ini vaksin juga sangat terbatas,”bebernya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana