ADANYA Perda Pendirian Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri disambut baik para petani. Petani menilai keberadaan BUMD tersebut mampu menyerap hasil panen dan menstabilkan harga ketika panen.
Namun, Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri perlu dikembangan secara tepat. Tentu bukan menyerap hasil panen kemudian menjual kembali. Sebaliknya, dikembangkan sebagai pusat insdutri pengolahan pertanian. Sehingga, nilai hasil panen petani bisa meningkat.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tengger, Kecamatan Ngasem Puryaji mengatakan, adanya pihak yang siap membeli hasil panen tentu ditunggu para petani. Terlebih selama ini petani menjual hasil panen kepada tengkulak yang berorientasi keuntungan.
Sehingga, berpotensi ada permainan harga. ’’Ini yang dibutuhkan para petani,” ungkapnya. Puryaji menilai perumda milik pemkab itu nantinya tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Sehingga, ada kepastian harga dan tercipta kestabilan harga walau pada momentum panen raya.
Namun, menurut Puryaji, para petani belum mengerti sistem kerja dari perumda tersebut. Apakah bersinergi dengan badan usaha milik desa (bumdes) yang bergerak di bidang pertanian dan bulog atau tidak.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan, dengan adanya Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri harga gabah ketika panen raya stabil dan tidak menurun. Sehingga, menguntungkan bagi petani.
Zaenal menjelaskan, ke depan perumda tersebut diharapkan tidak hanya menyerap hasil panen. Sebaliknya bisa menjadi pusat industri pertanian di Bojonegoro. Namun tergantung bagaimana manajemen nantinya.
Menurut Zaenal, Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri idealnya bisa membuat pabrik pengolahan pangan dan industri pertanian. Sehingga, mendukung Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Bojonegoro sebagai pusat agroindustri. (irv/bgs)
Editor : Hakam Alghivari