BLORA, Radar Bojonegoro - Lahan persawahan di beberapa kecamatan mulai memasuki kekeringan parah. Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora hanya mampu menyelamatkan musim tanam II. Empat kecamatan mulai memasuki kawasan kering berat.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Holtikultura, Perkebunan, dan Peternakan DP4 Blora Rosalia Diah Erawati menjelaskan, pada tahun ini potensi kemarau masuk dalam musim kemarau ekstrem dan berkepanjangan.
Saat ini, sudah mulai banyak lahan persawahan mengalami kekeringan. Meliputi kawasan utara Blora meliputi Ngawen, Tunjungan, dan Banjarejo sudah mengalami kondisi kekeringan berat. ’’Kawasan utara Blora saat ini masih bisa melakukan penanaman padi. Khususnya, di Kecamatan Cepu, Randublatung dan Kradenan yang ada di dekat wilayah sungai Bengawan Solo,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lahan persawahan di Blora saat ini ada yang mengalami kekeringan berat, sedang, dan ringan. Namun, untuk lahan persawahan dengan kekeringan berat di Kabupaten Blora mencapai 280 hektare.
’’Data yang ada di laporan kami, untuk semua level lahan persawahan yang mengalami kekeringan mencapai 2.800 hektare. Secara keseluruhan, presentase lahan kering kemarau akhir Juli ini sekitar 6 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk cakupan luas lahan sawah yang ada di Blora mencapai 46.685 hektare. Lahan sawah kering berat terjadi di Kecamatan Tunjungan, Ngawen, Kunduran, dan Banjarejo.
’’Untuk lahan sawah kering sedang ada di Kecamatan Jiken, Japah, Blora, Todanan, dan Kedungtuban. Sedangkan, lahan sawah kering ringan ada di Kecamatan Cepu, Randublatung, Kradenan, dan Sambong,” jelasnya.
Ia mengatakan, lahan sawah yang masih produktif tiga kali panen itu berada di Kedungtuban. Pihaknya saat ini sedang berusaha dan mengupayakan program dari Kementerian Pertanian untuk bantuan pompa air dan irigasi.
’’Dua bantuan itu efektif untuk menyelamatkan beberapa lahan persawahan di beberapa kecamatan untuk musim tanam II. Namun, kedua hal tersebut kurang efektif bila dilakukan pada Kecamatan Ngawen dan Tunjungan yang saat ini sudah mengalami kekeringan beratm,” ujarnya. (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana