BLORA, Radar Bojonegoro– Alokasi pupuk bersubsidi di Blora kembali ditambah. Penambahan signifikan terjadi untuk pupuk Urea. Sedangkan pupuk NPK stoknya masih terbatas.
Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Perkebunan (DP4) Blora Sukandar menjelaskan, alokasi pupuk Urea saat awal 2024 hanya 60 persen dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).
’’Ada tambahan alokasi pupuk, dari yang semula 60 persen untuk Urea menjadi 90 persen,’’ jelasnya.
Berdasarkan data e RDKK yang masuk, total kebutuhan Urea untuk petani di Blora sebanyak 72.372 ton.
Penambahan juga terjadi untuk jenis pupuk subsidi lainnya. Yakni NPK. Namun, secara persentase lebih sedikit.
‘’Kemudian untuk NPK dari alokasi awal yang 60 persen dari RDKK kini naik jadi 66 persen. Dari jumlah total kebutuhan 78.835 ton,” imbuhnya.
Menurut Sukandar, info alokasi penambahan itu sudah diberitahukan ke para distributor pupuk dan kelompok pedagang pupuk (KPL). Bahkan sudah mulai ditebus.
Ia menambahkan, alokasi pupuk tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan pupuk untuk seluruh petani di Blora. Pihaknya mendorong untuk petani di Blora juga menggunakan pupuk organik yang bersumber dari kotoran ternak. ’’Jadi
kalau untuk memenuhi kebutuhan seluruh petani di Blora, memang harus ditambah pupuk yang non subsidi,” tambahnya.
Untuk itu, lanjutnya, pihaknya mengarahkan petani agar juga menggunakan pupuk organik. Apalagi saat ini menurutnya bupati gencar mendorong pertanian organik.
’’Potensi pertanian organik di Blora sangat besar. Mengingat jumlah populasi hewan ternak sapi di Blora juga banyak. Oleh karena itu kami imbau agar petani dapat memanfaatkan pupuk organik yang bersumber dari kotoran ternak,” jelasnya. (hul/zim)
Editor : Hakam Alghivari