Sulitnya mendapatkan elpiji 3 kilogram (kg) di sejumlah kecamatan di Bojonegoro, ternyata berdampak pada ekonomi masyarakat secara langsung.
Bahkan, tak sedikit pedagang kecil yang memilih tak berjualan karena tidak memiliki elpiji sebagai bahan bakar.
Suyanti, pedagang nasi pecel di Desa Manukan, Kecamatan Gayam, mengaku tak berjualan tiga hari karena kesulitan mendapatkan elpiji. Bahkan, sempat mencari berkeliling di sekitar Kecamatan Gayam hingga Kalitidu, namun rerata stoknya selalu kosong.
‘’Sudah nyari-nyari jauh. Karena kalau tidak jualan ya tidak dapat pemasukan,” keluhnya.
Menurutnya, kesulitan elpiji 3 kg itu sudah terjadi mulai sebelum Lebaran, tapi hal itu tidak terlalu dirasakan karena rerata pedagang libur.
Namun, sejak mulai berjualan lagi, hingga kemarin (14/5) elpiji dirasakan tak kunjung mudah didapat, dan harganya belum turun. ‘’Akhirnya kalau elpiji kosong, pakai kayu bakar, ambil sendiri di hutan,” ungkap perempuan yang menghidupi satu anaknya itu.
Erin Anggraini, warga Desa Tulung, Kecamatan Trucuk mengatakan, keberadaan elpiji 3 kg di daerahnya sangat langka. Ada di beberapa toko dan hanya dijual di pelanggan tetapnya saja. Sehingga sulit mendapatkan.
‘’Sejak setelah lebaran lalu mulai langka,” ungkap Erin.
Dia melanjutkan, kini harganya mencapai Rp 23 ribu per tabung. Padahal, menurut dia, sebelumnya sekitar Rp 20 ribu per tabung. Namun, bagi dia tidak masalah harga naik asal ketersediaan aman. ‘’Bukan seperti ini. Sangat susah carinya. Bahkan, kata pengecer sampai beli di SPBE di Kecamatan Kapas,” tambah perempuan 26 tahun itu.
Sementara itu, Barok, sales pengiriman Elpiji 3 kg asal Kecamatan Kapas mengatakan, pihaknya memang kerap mendapatkan keluhan dari mastarakat. ‘’Saat melakukan pengiriman di pasar dan toko-toko, banyak sekali keluhan dari masyarakat. Bahkan, tidak hanya di Kecamatan Kapas, namun Kecamatan Kepohbaru, Balen, Sumberrejo, hampir merata ada keluhan dari masyarakat,” bebernya. (dan/msu)
Editor : Hakam Alghivari