DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Radar Bojonegoro
Pemindahan tanah makam Samin Surosentiko dari Sawahlunto, Sumatra Barat ke Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo. Seakan menjadi momentum bagi masyarakat samin di Bojonegoro. Sebab, keinginan pemindahan makam tersebut, ternyata sudah berlangsung sejak 2015 lalu.
’’Kalau niatnya 2015 lalu pernah, namun saat itu ahli waris yang dari Blora belum mengizinkan,” ungkap Bambang Sutrisno, tokoh Kelima Ajaran Samin.
Namun, sebelum pemindahan pada 20 Februari lalu, sempat kembali datang meminta izin di salah satu ahli waris di Blora, dan menemui titik terang untuk pemindahan itu.
‘’Sudah dipersilakan untuk mengambil sebagian tanah dari Sawahlunto (Sumatra Barat),” ungkapnya.
Kemudian, saat ini tanah makam Samin Surosentiko bersanding dengan makam generasi ke tiga samin yakni Surokarto Kamidin dan generasi keempat yakni Harjo Kardi.
Pasca pemindahan makam tersebut, warga Dusun Jepang ikut merasakan kebanggan dengan kembalinya tokoh leluhur ajaran samin ke tanah Jawa.
Dia mengaku senang dengan masih adanya pihak yang peduli dengan ajaran samin di Bojonegoro.
Namun, melihat antusiasme warga yang mulai mengunjungi makam tersebut dan berpotensi menjadi jujugan peziarah, dipastikan tak ada penjagaan atau larangan khusus. ’’Monggo, selama tujuannya baik. Sebab dulu mbah Hardjo pernah bilang untuk rukun dan utamanya memperbanyak saudara,” ceritanya.
Sejalan dengan ajaran Samin Surosentiko, sebelum diasingkan ke Sawahlunto, Sumatra Barat oleh Pemerintahan Belanda. ‘’Karena saudara dan pengikutnya semakin banyak, akhirnya dianggap merugikan penjajah,” lanjutnya.
Sebelum akhirnya meninggal pada 1914 di Sawahlunto dalam ajaran hidup yang kemudian diajarkan sebagai petuah luhur.
Terpisah, Sekretaris Daerah Nurul Azizah menyampaikan, bahwa pemindahan tanah makam tersebut, memang suatu proses yang butuh perjuangan ekstra karena harus melewati akses jalan yang sulit dan jalanan terjal.
Pengambilan tanah makam tersebut, sesuai pesan mendiang Hardjo Kardi. ’’Sesuai pesan harus ada leluhur yang dikembalikan ke Bojonegoro, semoga bisa meneladani ajaran untuk melestarikan budaya di Bojonegoro,” ungkapnya. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari